98 Hari Menjelang Ramadhan, Sudahkah Sahabat Membayar Fidyah?

Nov 12, 2025 | Artikel, Blog

Alhamdulillah, langkah nyata kembali diikhtiarkan. Pada 12 April, delegasi Indonesia yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) resmi memulai perjalanan kemanusiaan menuju Gaza. Dari Pelabuhan Moll de la Fusta, Barcelona, mereka berlayar bersama rombongan Global Sumud Flotilla (GSF), membawa satu pesan yang sama: kemanusiaan tidak boleh dibungkam oleh blokade.

Di tengah dunia yang kerap sibuk dengan kepentingannya sendiri, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik melintasi lautan. Ini adalah simbol keberanian, kepedulian, dan harapan, bahwa masih ada hati yang tergerak untuk berdiri bersama Palestina.

Perjalanan Laut: Menembus Batas Demi Kemanusiaan

Perjalanan yang dimulai dari Barcelona ini bukan tanpa risiko. Laut yang luas hanyalah satu tantangan kecil dibandingkan dengan realitas politik dan blokade yang selama ini membatasi akses bantuan ke Gaza. Namun, semangat para delegasi tidak surut.

Mereka membawa lebih dari sekadar bantuan. Mereka membawa suara jutaan orang yang selama ini hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Setiap mil yang ditempuh adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakpedulian global.

Jalur Darat: Ikhtiar Tanpa Henti dari Libya

Sementara itu, perjuangan tidak berhenti di laut. Delegasi Indonesia lainnya dijadwalkan melanjutkan misi melalui jalur darat (Land Convoy) yang akan dimulai pada 24 April dari Libya.

Perjalanan darat ini memiliki tantangan yang berbeda, mulai dari kondisi geopolitik hingga akses yang terbatas. Namun justru di situlah makna pengabdian menjadi nyata. Ketika jalan terasa sulit, di situlah komitmen diuji.

Mereka tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga pesan bahwa Gaza tidak sendiri. Ada dunia yang masih peduli, masih berjuang, dan masih berharap.

Jalur Diplomasi: Menggema di Panggung Internasional

Di sisi lain, upaya kemanusiaan ini juga diperkuat melalui jalur diplomasi. Pada 22 April mendatang, misi political impact akan dilaksanakan di Brussel, Belgia.

Langkah ini menjadi penting karena perubahan besar sering kali lahir dari tekanan global yang konsisten. Ketika suara kemanusiaan menggema di pusat-pusat kebijakan dunia, harapannya adalah lahir keputusan-keputusan yang lebih berpihak pada keadilan.

Ini bukan hanya tentang bantuan hari ini, tetapi tentang masa depan Gaza yang lebih manusiawi.

Satu Tujuan: Menembus Blokade, Menghidupkan Harapan

Meski dilakukan melalui jalur laut, darat, dan diplomasi, semua langkah ini bermuara pada satu tujuan yang sama, yaitu menembus blokade Gaza dan menyuarakan kemanusiaan untuk Palestina.

Blokade bukan hanya membatasi pergerakan barang, tetapi juga membatasi harapan. Dan di situlah misi ini menjadi sangat penting, mengembalikan harapan yang selama ini terkurung.

Ketika bantuan berhasil sampai, itu bukan sekadar logistik. Itu adalah pesan bahwa mereka dilihat, didengar, dan tidak dilupakan.

Mengapa Dukungan Kita Sangat Berarti

Misi ini bukan akhir, melainkan bagian dari perjuangan panjang. Delegasi yang berangkat adalah perpanjangan tangan dari kita semua. Mereka melangkah karena ada dukungan, doa, dan kontribusi dari banyak hati.

Namun kebutuhan di Gaza tidak berhenti hari ini. Setiap hari ada keluarga yang membutuhkan makanan, anak-anak yang membutuhkan perlindungan, dan masyarakat yang membutuhkan harapan.

Di sinilah peran kita menjadi penting. Dukungan, sekecil apa pun, memiliki dampak yang nyata. Karena bagi mereka, bantuan itu bukan angka, itu adalah kehidupan.

Saatnya Kita Ambil Bagian

Kita mungkin tidak berada di atas kapal yang berlayar dari Barcelona, atau di konvoi darat dari Libya, atau di forum internasional di Brussel. Namun kita tetap bisa menjadi bagian dari perjuangan ini.

Dengan doa, kita menguatkan langkah mereka. Dengan kepedulian, kita memperpanjang dampak misi ini. Dan dengan kontribusi nyata, kita membantu menghadirkan perubahan yang mereka perjuangkan. Klik disini untuk ikut memberikan dukungan. Sebab Gaza membutuhkan lebih dari sekadar perhatian. Gaza membutuhkan aksi. Dan hari ini, kita punya kesempatan untuk menjadi bagian dari harapan itu.

98 hari menuju Ramadhan. Sudahkah kita menyiapkan diri untuk menyambutnya? Momen apa yang paling sahabat rindukan dari bulan penuh berkah itu?

Sahabat,  waktu terasa begitu cepat, hingga tanpa sadar, kita sudah memasuki hitungan 98  hari menuju momen istimewa bulan suci Ramadhan.  Bulan penuh berkah, bulan yang selalu dinantikan seluruh umat islam, bulan dimana kita selalu berlomba-lomba dalam kebaikan, bulan dimana pahala dilipat gandakan. Inilah waktu yang tepat bagi kita untuk mulai mempersiapkan diri, baik dari segi fisik maupun spiritual, agar dapat menyambut dan meraih keberkahan di bulan suci tersebut. 

Namun sebelum Ramadhan datang, ada satu hal penting yang sering terlupakan,, yaitu melunasi hutang puasa Ramadhan tahun sebelumnya. Sebab, di antara kita mungkin ada yang belum sempat menggantinya karena alasan tertentu, seperti haid, nifas, atau sakit. Maka, jangan biarkan waktu berlalu begitu saja. Segera tunaikan qadha puasamu sebelum Ramadhan tahun ini menyapa. 

Dan bagi mereka yang tidak lagi mampu menjalankan puasa karena kondisi tertentu seperti ibu hamil, orang yang sedang sakit berkepanjangan, atau mereka yang telah lanjut usia hingga tubuhnya tak lagi kuat menahan lapar dan haus seharian penuh, maka syari’at islam tidak memberatkannya, melainkan memberikan jalan kemudahan dengan cara membayar fidyah sebagai pengganti puasa yang ditinggalkan.

Membayar Fidyah hukumnya wajib. Yaitu, memberi makan kepada orang miskin sebagai pengganti dari puasa yang tidak dapat digantikan. Allah SWT berfirman dalam Q.S Al – Baqarah ayat: 184.

Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari yang dia tidak berpuasa itu pada hari-hari yang lain. bagi orang yang berat menjalankan, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin.

Melalui pembayaran fidyah, kita tidak hanya menunaikan kewajiban kepada Allah, tetapi juga ikut menebar kebaikan kepada sesama. Fidyah menjadi wujud kepedulian sahabat yang menghubungkan antara ibadah dan menebar manfaat bagi orang lain.

Maka, bagi sahabat yang memiliki hutang puasa tahun lalu, mari segera tunaikan sebelum Ramadhan tiba. Dan bagi yang tidak mampu lagi berpuasa karena alasan yang dibenarkan syariat, bayarlah fidyah sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa syukur kepada Allah.

Dengan begitu, Sahabat bisa menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang tenang dan bersih. karena sudah tidak ada hutang puasa yang tertinggal, tidak ada kewajiban yang terabaikan. karena sudah membayar fidyah.

Bagi sahabat yang masih memiliki hutang puasa tahun lalu, mari segera tunaikan sebelum Ramadhan tiba. Dan bagi yang tidak lagi mampu berpuasa karena alasan yang dibenarkan syariat islam. Kini, sahabat juga dapat menunaikan fidyah dengan mudah melalui Klik disini untuk menunaikan fidyah bersama Relawan Nusantara. Kami siap menyalurkan amanah fidyah kepada mereka yang berhak menerima.