Konservasi Penyu Berbasis Komunitas oleh PT PELNI (Persero) & Relawan Nusantara di Pulo Aceh

Feb 13, 2025 | Blog, Lingkungan, Sosial

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

PT PELNI (Persero) bersama Relawan Nusantara mengadakan kegiatan konservasi penyu di Gampong Gugop, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PELNI (Persero) yang berfokus pada pelestarian ekosistem laut. Kegiatan ini mengusung pendekatan berbasis komunitas dengan melibatkan Komunitas Lepa, sebuah lembaga ekowisata di Pulo Aceh yang berperan aktif dalam perlindungan penyu dan edukasi lingkungan kepada masyarakat.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk Camat Pulo Aceh, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikakan (DKP) Aceh Besar, Ketua Cabang PT PELNI Medan, serta anggota Komunitas Lepa. Lebih dari 50 peserta turut serta dalam acara seremonial pelepasan tukik (anak penyu) ke laut lepas. Tukik yang dilepaskan merupakan hasil dari upaya penyelamatan dan pembesaran oleh Komunitas Lepa sebagai bagian dari konservasi berkelanjutan di wilayah tersebut.

Sebanyak 85 tukik berhasil diselamatkan dan dilepasliarkan ke habitat aslinya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan kelangusngan hidup populasi di Pulo Aceh, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Selain pelepasan tukik, diadakan Forum Diskusi Kelompok (FDG) yang melibatkan Ketua Adat Pulo Aceh serta perwakilan masyarakat setempat. Salah satu isu utama yang dibahas dalam diskusi ini mengenai pentingnya peraturan yang melarang konsumsi telur tukik, guna melindungi populasi penyu yang semakin terancam.

Warga setempat menyambut baik kegiatan ini dan semakin memahami pentingnya menjaga penyu agar ekosistem laut tetap seimbang. Dengan dukungan dari berbagai pihak, program konservasi ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya melestarikan lingkungan bersama masyarakat.

Melalui kerja sama yang berkelanjutan antara PT PELNI (Persero), Relawan Nusantara, komunitas lokal, serta pemerintah daerah, program konservasi ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang yang positif bagi lingkungan dan keberagaman hayati laut di Pulo Aceh.