Utsman bin Affan dan Sumur Raumah: Amal Abadi yang Tak Pernah Kering

Aug 8, 2025 | Air Bersih, Artikel, Blog

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Madinah – 1400 tahun silam, saat kaum Muslimin baru saja hijrah dari Mekkah, memulai hidup baru di tengah keterbatasan, datang ujian berat berupa krisis air bersih. Di seluruh penjuru Madinah, hanya ada satu sumur yang masih mengalir, yakni Sumur Raumah milik seorang Yahudi. Air bersih harus dibeli mahal. Antrian panjang menjadi pemandangan harian, menyesakkan bagi penduduk dan kaum muslimin yang baru berhijrah.

Suatu hari, Rasulullah ﷺ menyampaikan sabda yang menggetarkan hati para sahabat:

“Siapa di antara kalian yang membeli sumur Raumah dan menyedekahkannya untuk umat, maka baginya surga.”
(HR. Muslim)

Sebuah tawaran yang membuka kesempatan untuk memberi di dunia, dan menuai di akhirat.

Saat Dunia dan Akhirat Bertemu di Tangan Seorang Dermawan

Adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi dan saudagar kaya yang mendengar sabda tersebut. Ia tau, ini bukan soal transaksi bisnis belaka, ini adalah kesempatan dan jalan menuju surga.. Tanpa ragu, ia menemui pemilik sumur dan menawarnya dengan harga tinggi. Tapi sang pemilik menolak, sebab sumur tersebut adalah sumber penghasilan hariannya.

Utsman bin Affan tidak menyerah. Ia kembali, menawar separuh hak pakai sumur, hari ini miliknya, esok milik sang Yahudi. Tawaran diterima, dan sejak saat itu, air mengalir gratis setiap hari ganjil bagi umat Islam.

Satu hari cukup untuk mengambil persediaan air dua hari. Hari berikutnya, saat sumur kembali dikelola sang Yahudi, tak ada yang membeli. Melihat kerugiannya, pemilik sumur akhirnya menyerah.

“Wahai Utsman, belilah separuh yang tersisa seperti yang kau bayarkan sebelumnya,” pintanya.

Tanpa menawar, Utsman menyelesaikan pembebasan sumur itu. Dan sejak itu, air dari Sumur Raumah menjadi milik umat. Dan hingga hari ini, Sumur Raumah masih mengalirkan air di Madinah. Keuntungannya bahkan masih disalurkan untuk anak yatim dan fakir miskin lewat kebun kurma yang ditanam di sekitarnya. Jejak Utsman bin Affan terus hidup selama lebih dari satu milenium.

Mengalirkan Kehidupan ke Tanah yang Terluka

Hari ini, jauh dari Madinah, saudara kita di Palestina mengalami krisis yang hampir sama, bahkan lebih tragis. Bukan hanya hak hidup yang direnggut, tapi akses terhadap air bersih pun dibatasi. Di berbagai wilayah di Gaza dan Tepi Barat, sumur rusak, air tercemar, dan krisis kemanusiaan semakin dalam.

Di tengah keterbatasan itu, kita dihadapkan pada pilihan yang sama seperti Utsman dahulu: mengulurkan tangan, dan membebaskan air untuk mereka yang membutuhkan, atau hanya akan diam.

Saatnya Menjadi Bagian dari Wakaf yang Mengalirkan Surga

Klik di sini untuk berdonasi dan ikut #LuaskanManfaat bersama kami. Satu sumur yang hadir di Palestina, bisa menjadi sumber kehidupan bagi ratusan keluarga dan menjadi amal jariyah yang tak pernah kering.