Kapal Induk Global Sumud Flotilla Diserang Drone di Tunisia, Greta Thunberg & Para Aktivis Selamat

Sep 9, 2025 | Berita, Blog, Palestina

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Tunis, 9 September 2025 – Misi kemanusiaan untuk Gaza kembali mendapatkan teror. Kapal utama Global Sumud Flotilla (GSF), yang dikenal sebagai Family Boat atau Kapal Keluarga, diserang oleh pesawat tanpa awak (drone) di Pelabuhan Sidi Bou Said, Tunisia, pada Senin malam (8/9).

Kapal sipil dengan bendera Portugis itu tengah membawa anggota Komite Pengarah GSF, Yasemin Acar, termasuk aktivis Greta Thunberg, Kieran Andrieu, Yusuf Omar, dan para pengarah utama flotilla lainnya. Serangan tersebut mengakibatkan kapal terbakar, namun seluruh penumpang berhasil selamat.

Kronologi Serangan

Menurut keterangan resmi GSF di Instagram, “semua penumpang dan awak selamat. Investigasi sedang berlangsung, dan informasi lebih lanjut akan diumumkan segera.”


Dilansir dari TRT World, serangan terjadi ketika sebuah drone melintas rendah di atas kapal, melepaskan bom, lalu meledak. Api sempat membakar bagian kapal sebelum berhasil dipadamkan.

Yasemin Acar, anggota Komite Pengarah GSF, mengungkapkan melalui video di Instagram:

“Sebuah pesawat tanpa awak terbang tepat di atasnya, melepaskan bom, lalu meledak, dan kapal itu terbakar. Semua orang di kapal itu baik-baik saja. Apinya telah padam.”

Respon Dunia Internasional

Serangan ini langsung mendapat sorotan dunia. Al Jazeera melaporkan, Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, menyerukan perlindungan segera bagi armada tersebut.


“Kapal utama armada tampaknya diserang oleh pesawat tak berawak di pelabuhan Tunis. Dua kapal lainnya sedang dalam perjalanan ke Tunis dan mereka membutuhkan perlindungan segera,” tulisnya di X.

Hingga kini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, indikasi ancaman sebelumnya sudah ada. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, sempat menegaskan akan memperlakukan GSF sebagai “teroris” karena dianggap menantang blokade Gaza.

Kapal Harapan dari 44 Negara

Global Sumud Flotilla, yang namanya berasal dari bahasa Arab, sumud (keteguhan). Armada ini membawa misi sederhana namun penuh akan resiko. menembus blokade Israel, mengirim bantuan kemanusiaan, dan menunjukkan solidaritas dunia untuk rakyat Gaza.

Dalam pernyataan resminya, GSF menegaskan bahwa serangan ini tidak akan menghentikan mereka.

“Tindakan agresi yang bertujuan mengintimidasi dan menggagalkan misi kami tidak akan menghalangi misi kami. Misi damai kami untuk mematahkan pengepungan di Gaza dan berdiri dalam solidaritas dengan rakyatnya terus berlanjut dengan tekad dan keteguhan.”

Gaza: Genosida yang Terus Berlangsung

Konteks di balik misi ini tak bisa dilepaskan dari tragedi di Gaza.

  • Menurut laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung PBB pada 22 Agustus lalu, kelaparan sudah melanda Gaza Utara dan berpotensi menyebar karena blokade yang diperketat.
  • Genosida Israel memasuki hari ke-700 pada Jumat lalu, dengan lebih dari 64.500 warga Palestina terbunuh, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
  • Hampir seluruh penduduk Gaza kehilangan rumah, hidup dalam reruntuhan dan pengungsian.

Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) bahkan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Solidaritas yang Tak Bisa Dibungkam

Bagi para aktivis di kapal, serangan ini hanyalah pengingat bahwa jalan menuju kemanusiaan memang penuh bahaya. Tetapi, mereka percaya bahwa setiap resiko sepadan dengan harapan yang dititipkan oleh rakyat Gaza.

“Ini bukan hanya serangan terhadap kapal sipil. Ini adalah serangan terhadap harapan dan solidaritas dunia untuk Gaza,” tegas Yasemin Acar.

Armada Sumud Global tetap dijadwalkan melanjutkan pelayaran pada Rabu (10/9) dari Tunisia menuju Gaza. Dari Barcelona hingga Tunis, dari Eropa hingga Asia, pesan mereka tetap sama, selama masih ada ketidakadilan, kapal harapan ini akan terus berlayar.

Klik di sini untuk ikut melayarkan dukungan. Inilah saatnya untuk meluaskan manfaat dan solidaritas. Karena sekecil apa pun kepedulian dari kita, adalah kekuatan yang mendorong kapal ini bisa sampai ke Gaza.