Nabilah Eks JKT48 dan Relawan Nusantara Temui Pengungsi Palestina di Yordania: Satu Suapan Kasih Sayang

Oct 9, 2025 | Berita, Blog, Palestina

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Yordania, Oktober 2025 – Di tengah camp pengungsian yang berjejer di Khan Yunis, tersimpan kisah tentang kehilangan dan keteguhan hati. Namanya Nisrin, seorang gadis kecil asal Gaza, kini berusia 13 tahun dan duduk di bangku kelas 1 SMP. Ia adalah anak pertama dari lima bersaudara yang hidup dalam camp pengungsian setelah Israel menghancurkan tanah kelahirannya.

Ayah Nisrin dulunya seorang terpandang di Gaza. Hektaran tanah menjadi sumber kebanggaan keluarganya. Namun, genosida di Palestina merenggut segalanya. Rumah, kehormatan, dan kebahagiaan sederhana yang dulu mereka miliki. Beratnya kehilangan membuat sang ayah terpuruk dalam depresi.

Dari Gaza ke Yordania: Perjalanan yang Penuh Luka dan Doa

Setahun lamanya, keluarga Nisrin bertahan di pengungsian Khan Yunis. Di camp kecil itu, mereka tetap berusaha tersenyum. Doa menjadi satu-satunya kekuatan yang tersisa, terucap lirih dari bibir mungil Nisrin yang belum lepas dari trauma.

Kini, mereka berhasil diungsikan ke Yordania, tempat yang relatif lebih aman. Ayah Nisrin mulai membaik setelah menjalani terapi, meski luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh. Namun ada satu hal yang membuat mereka tegar. keyakinan bahwa, di manapun kami berada, selalu ada Allah yang membantu, salah satunya melalui tangan orang-orang Indonesia yang selalu mereka temui di Khan Yunis maupun di Yordania.

Nabilah Eks JKT48 Turun Langsung Bersama Relawan Nusantara

Kehadiran Nabilah Ayu, mantan anggota JKT48, bersama tim Relawan Nusantara, menjadi momen yang tak terlupakan bagi Nisrin dan keluarganya. Di camp pengungsian sederhana itu, mereka disambut dengan senyum bahagia. Senyum yang justru menampar hati siapa pun yang menyaksikannya.

Nabilah, yang kini aktif dalam kegiatan kemanusiaan, tak kuasa menahan air mata. Begitupun Ustaz Erick Yusuf, Wakil Ketua LSBPI MUI Pusat yang turut mendampingi, juga menitikkan air mata bersama istrinya. Bagi mereka, keluarga Nisrin merupakani pengingat bahwa iman dan harapan tidak pernah bisa diruntuhkan oleh apapun.

Harapan yang Tak Pernah Padam di Tengah Luka Palestina

Senyum Nisrin adalah simbol bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya bersembunyi, menunggu ditemukan, bahkan di tengah reruntuhan, kehilangan, dan heningnya luka.

Relawan Nusantara bersama Nabilah JKT48 membuktikan bahwa kepedulian Indonesia masih terus hidup. Bahwa di tengah konflik Palestina yang belum usai, tangan-tangan dari negeri jauh ini tetap hadir membawa kasih, doa, dan secercah harapan untuk masa depan yang lebih damai.

Klik disini untuk ikut berkontribusi membantu anak-anak Gaza. Karena satu suapan kasih sayang dari tangan yang memberi, mengalir doa agar dunia tak lagi diam melihat penderitaan Gaza.