Relawan Nusantara dan Unimal Bersihkan Puskesmas Babah Buloh dari Lumpur Banjir

Dec 8, 2025 | Bencana, Berita, Blog, kemanusiaan, Kemitraan

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Banjir besar yang melanda Kecamatan Sawang, Aceh Utara, tidak hanya merendam rumah warga, tetapi juga menghentikan pelayanan kesehatan di Puskesmas Babah Buloh. Saat air naik hampir dua meter, seluruh ruangan puskesmas berubah menjadi lautan lumpur. Meja pemeriksaan, ruang tindakan, ruang obat, hingga tempat tidur pasien tenggelam dalam material banjir.

Di balik kerusakan yang menguras tenaga dan air mata itu, hadir tiga puluh relawan yang memutuskan bahwa Babah Buloh tidak boleh dibiarkan menunggu terlalu lama. Relawan Nusantara bersama tim Penanggulangan Bencana Alam Unimal hadir tanpa banyak kata. Dengan tekad yang mantap, mengembalikan puskesmas agar bisa berdiri lagi sebagai tempat masyarakat mengharap kesembuhan.

Mengeruk Lumpur, Menjemput Harapan

Pagi itu, para relawan memasuki bangunan puskesmas dengan sepatu yang langsung tenggelam dalam lumpur tebal. Bau lembap bercampur lumpur memenuhi udara. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang mengeluh. Mereka mulai menyapu, mengeruk, mengangkat, dan memindahkan material yang rusak, ruangan demi ruangan. Setiap sekop lumpur yang diambil seolah membuka sedikit ruang bagi harapan untuk kembali tumbuh.

Ketika satu ruangan mulai terlihat bentuknya kembali setelah lumpur diangkat, para relawan merasakan seperti ada cahaya kecil yang muncul di tengah situasi sulit. Sebuah tanda bahwa puskesmas ini masih punya kesempatan untuk bangkit. Dan di setiap titik yang kembali terlihat, selalu ada harapan bahwa pelayanan kesehatan bisa pulih lebih cepat.

Harapan terbesar dari aksi ini sangat sederhana namun amat berarti, agar Puskesmas Babah Buloh bisa kembali beroperasi. Inilah alasan mengapa Relawan Nusantara terus bergerak, dan mengapa mereka terus mengajak kita untuk ikut meluaskan manfaat. Sebab Setiap bantuan, sekecil apa pun, menjadi bagian dari perjalanan memulihkan Aceh Utara. 

Klik disini untuk ikut meluaskan manfaat. Karena ketika satu puskesmas hidup kembali, kehidupan sebuah desa ikut pulih. Dan ketika Sahabat ikut membantu, Sahabat telah menjadi bagian dari upaya mewujudkan harapan itu.