Di tengah upaya pemulihan pasca bencana hidrometeorologi di Aceh Timur, harapan kembali berlayar bersama kepedulian. Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) secara simbolis menyerahkan dua unit kapal bantuan kepada masyarakat terdampak pada Senin, 16 Februari. Penyerahan dilakukan langsung kepada Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, di Dusun Rantau Panjang, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, wilayah yang selama ini sangat bergantung pada jalur sungai untuk aktivitas harian.

Bagi warga yang mobilitasnya lumpuh akibat banjir bandang, kapal bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah jalan kembali menuju kehidupan, menuju ladang, sekolah, pasar, dan ruang-ruang sosial yang sempat terputus oleh bencana.

Kapal Bantuan sebagai Titik Awal Pemulihan Kehidupan Warga

Penyerahan dua kapal ini merupakan tahap awal dari total delapan unit yang akan dihadirkan GPCI. Bantuan tersebut lahir dari aspirasi masyarakat yang sebelumnya disampaikan Bupati kepada Bachtiar Nasir dan rombongan saat kunjungan silaturahmi. Respons cepat para relawan menjadi bukti bahwa suara warga di daerah hulu tetap terdengar dan diperjuangkan.

Di kawasan pedalaman yang menggantungkan akses pada sungai, keberadaan sampan dan boat berarti keberlanjutan hidup. Dengan berfungsinya kembali jalur air, denyut ekonomi, pendidikan, dan interaksi sosial perlahan ikut pulih. Bantuan ini tidak hanya memindahkan manusia dari satu titik ke titik lain, tetapi menggerakkan kembali harapan yang sempat terhenti.

Dukungan Menyeluruh: Meugang, Fasilitas Umum, dan Kehidupan Sosial

Kepedulian GPCI tidak berhenti pada penyediaan transportasi air. Bantuan juga mencakup penyediaan sapi untuk penyembelihan Meugang, yakni tradisi penting masyarakat Aceh menjelang hari besar, serta pembangunan fasilitas umum seperti MCK dan musala. Langkah ini menunjukkan bahwa pemulihan sejati bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga martabat, kesehatan, dan ruang spiritual warga.

Ketika sanitasi membaik dan ruang ibadah kembali berdiri, masyarakat tidak sekadar bertahan hidup, tetapi mulai menata kembali makna kehidupan setelah bencana.

Global Sumud for Aceh: Solidaritas Lokal dengan Nafas Kemanusiaan Global

Program bertajuk Global Sumud for Aceh menegaskan bahwa kerja kemanusiaan harus menyentuh yang terdekat sebelum menjangkau yang jauh. Seperti disampaikan Ketua GPCI Maimon Herawati, gerakan ini menjadi latihan kemanusiaan sebelum keberangkatan misi internasional Global Sumud Flotilla Spring 2026 menuju Gaza.

Pesannya jelas, bahwa solidaritas tidak mengenal batas geografis. Kepedulian yang sama untuk warga di hulu Aceh juga akan dibawa menembus blokade kemanusiaan di Palestina.

Menuju Global Sumud Flotilla 2.0: Mobilisasi Sipil untuk Kemanusiaan

Saat ini, GPCI tengah terlibat dalam persiapan Global Sumud Flotilla 2.0 bersama jejaring internasional. Misi ini dirancang mengerahkan lebih dari 100 kapal yang membawa sekitar 1.000 aktivis, termasuk tenaga medis dan penyelidik dugaan kejahatan perang, guna mengantarkan makanan serta obat-obatan ke Gaza melalui jalur darat dan laut.

Gerakan ini digadang menjadi salah satu mobilisasi sipil terbesar untuk menentang blokade Israel atas Gaza, sebuah upaya kolektif yang menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan apa pun.

Dari Aceh Timur untuk Dunia: Jangan Lelah Menjadi Bagian dari Harapan

Kisah penyerahan kapal di Aceh Timur mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kepedulian yang nyata. Satu kapal dapat menghidupkan kembali satu kampung. Satu bantuan dapat menguatkan satu generasi. Dan satu aksi kebaikan dapat menjalar menjadi gerakan kemanusiaan lintas dunia.

Karena itu, jangan lelah untuk terus mengambil bagian. Dukungan hari ini, dalam bentuk doa, kepedulian, maupun donasi, akan menjelma menjadi harapan yang benar-benar dirasakan oleh mereka yang sedang berjuang bangkit. Klik disini untuk ikut mengambil bagian. Dari sungai-sungai di Aceh hingga pesisir Gaza, kemanusiaan selalu menemukan jalannya pulang.