Tangis dan rasa cemas masih menyelimuti sebuah rumah sederhana di Kampung Pari Timur, Desa Pari, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang. Di rumah itu, seorang anak laki-laki berusia 8 tahun bernama Lufti harus menjalani hari-harinya dengan rasa sakit yang luar biasa setelah mengalami luka bakar serius hingga mencapai 70 persen di tubuhnya.
Peristiwa memilukan itu terjadi pada Jumat, 2 Januari 2026 sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu, Lufti sedang bermain di rumah temannya yang masih berada di lingkungan tetangga dekat rumahnya. Tidak ada yang menyangka, aktivitas bermain anak-anak yang terlihat biasa justru berubah menjadi tragedi yang meninggalkan luka mendalam bagi satu keluarga.
Menurut keterangan keluarga, kejadian bermula ketika teman-teman Lufti mencoba melakukan eksperimen yang mereka lihat dari tayangan YouTube. Dalam eksperimen berbahaya tersebut, tubuh Lufti dijadikan bahan percobaan. Baju yang dikenakannya ditaburi minyak telon, lalu dibakar oleh salah satu temannya.
Api dengan cepat menyambar tubuh kecil Lufti. Dalam hitungan detik, kobaran api membesar dan melahap sebagian besar tubuhnya. Teriakan histeris pun pecah di lingkungan sekitar rumah.
“Kami sangat terkejut dan tidak menyangka kejadian seperti ini bisa terjadi. Saat itu kami sedang sibuk dengan pekerjaan lain, lalu tiba-tiba mendengar teriakan warga,” ujar salah satu anggota keluarga dengan suara bergetar menahan tangis.
Luka Bakar 70 Persen yang Mengubah Kehidupan Seorang Anak Kecil
Setelah kejadian itu, Lufti segera dibawa ke bidan terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun karena kondisi luka yang sangat serius, pihak medis menyarankan agar ia segera dirujuk ke rumah sakit daerah.
Luka bakar yang dialami Lufti bukan luka ringan. Api membakar hampir sebagian besar tubuhnya, mulai dari bagian dada, punggung, perut, hingga area pantat. Tim medis menyebut luas luka bakarnya mencapai sekitar 70 persen dengan tingkat keparahan yang sangat tinggi.
Di usia yang masih begitu kecil, Lufti harus menahan rasa sakit yang tidak mudah dibayangkan. Tubuhnya dipenuhi luka yang membutuhkan perawatan intensif dan proses penyembuhan yang sangat panjang.
Menurut keterangan keluarga, dokter menyampaikan bahwa pemulihan luka bakar separah itu bisa memakan waktu hingga satu tahun, bahkan lebih. Selama proses tersebut, Lufti harus menjalani perawatan rutin, penggantian perban, hingga pembersihan luka menggunakan cairan infus agar infeksi tidak semakin parah. Namun di balik perjuangan medis yang berat itu, ada perjuangan lain yang juga tidak kalah menyakitkan, yaitu keterbatasan ekonomi keluarga.
Orang Tua Pasrah karena Biaya Pengobatan yang Terus Membengkak

Sudah lebih dari empat bulan Lufti menjalani perawatan. Setiap dua hari sekali, perbannya harus diganti. Luka-luka di tubuhnya harus dibersihkan secara perlahan untuk mencegah infeksi dan mempercepat penyembuhan. Semua proses itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Orang tua sambung Lufti yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkot kini mulai merasa kehabisan tenaga dan harapan. Penghasilan yang tidak menentu membuat keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pengobatan yang terus berjalan.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, mereka hanya bisa berusaha semampunya demi kesembuhan sang anak.
Ada hari-hari ketika rasa pasrah mulai datang. Bukan karena mereka tidak sayang kepada Lufti, tetapi karena kenyataan hidup terasa begitu berat untuk dihadapi sendirian. Di rumah sederhana itu, seorang anak kecil masih terus berjuang melawan rasa sakit. Tubuhnya mungkin dipenuhi luka, tetapi harapan untuk sembuh masih tetap ada.
Bahaya Konten Eksperimen Berbahaya untuk Anak-Anak
Kasus yang menimpa Lufti menjadi pengingat serius bagi semua orang tua tentang pentingnya pengawasan terhadap tontonan anak-anak, terutama konten eksperimen berbahaya di media sosial dan platform video.
Banyak anak belum memahami risiko dari apa yang mereka lihat di internet. Rasa penasaran dan keinginan mencoba sesuatu sering kali dilakukan tanpa memahami dampak yang bisa terjadi.
Eksperimen yang terlihat sederhana di layar ternyata dapat berubah menjadi bencana nyata ketika dilakukan tanpa pengawasan dan pemahaman keselamatan.
Tragedi yang dialami Lufti bukan hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma mendalam bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Tidak ada orang tua yang siap melihat anaknya harus menanggung rasa sakit sebesar ini hanya karena sebuah permainan yang berujung petaka.
Harapan untuk Lufti Masih Ada
Di balik luka dan rasa sakit yang masih harus dijalani Lufti setiap hari, masih ada harapan yang belum padam. Bantuan dan kepedulian dari sahabat dapat menjadi kekuatan besar bagi keluarga untuk terus bertahan menjalani proses pengobatan.
Setiap dukungan yang diberikan akan membantu meringankan biaya perawatan, pembelian perban, kebutuhan medis, hingga pemulihan kondisi Lufti yang masih panjang.
Bagi sebagian orang, bantuan mungkin terlihat kecil. Namun bagi Lufti dan keluarganya, itu bisa menjadi alasan untuk tetap percaya bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian. Karena di saat kondisi terasa paling sulit, kepedulian sesama sering kali menjadi cahaya yang menjaga harapan tetap hidup.

