Malam di Desa Adat Sade, Lombok Tengah, seharusnya berjalan seperti malam-malam sebelumnya.
Rumah-rumah tradisional berdiri berdampingan. Jalan kecil di antara permukiman menjadi bagian dari keseharian masyarakat Suku Sasak. Di tempat ini, tradisi tidak hanya diceritakan kepada wisatawan, tetapi dijalani dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, suasana itu berubah.
Kebakaran melanda Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Api dengan cepat merambat di kawasan permukiman tradisional dan membuat sebagian besar bangunan berubah menjadi puing.
Berdasarkan pendataan sementara Kementerian Kebudayaan, 167 unit bangunan terdampak. Jumlah itu mencakup 75 rumah adat, 69 artshop, 8 lumbung alang, serta masjid dan bangunan adat lainnya.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa tersebut. Namun kehilangan tidak selalu dapat dihitung dari jumlah bangunan yang terbakar. Sebab, yang berdiri di Sade bukan sekadar rumah. Di sana ada sejarah, tradisi, pengetahuan, benda pusaka, dan ingatan sebuah masyarakat yang telah menjaga identitasnya selama bergenerasi.
Sade Bukan Sekadar Kampung Wisata

Bagi wisatawan, Desa Adat Sade dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Lombok.
Kawasan ini berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, dan menjadi salah satu tempat masyarakat Suku Sasak mempertahankan kehidupan serta tradisi leluhur.
Rumah-rumah tradisional, aktivitas menenun, kehidupan masyarakat, hingga berbagai bentuk pengetahuan budaya menjadi bagian dari pengalaman yang selama ini dikenal pengunjung.
Namun bagi masyarakat Sade, kampung itu jauh lebih dalam daripada sebuah destinasi wisata.
Sade adalah rumah. Tempat keluarga tumbuh. Tempat anak-anak mengenal cerita leluhur. Tempat para penenun menjaga keterampilan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Dan tempat tradisi tetap hidup karena dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika kebakaran Desa Adat Sade terjadi, yang hilang bukan hanya bangunan fisik. Sebagian ruang tempat sebuah kebudayaan hidup juga ikut terluka.
Api Membakar Rumah, Pusaka, dan Ingatan
Di balik puing-puing kebakaran Desa Adat Sade, ada kehilangan yang tidak dapat digantikan hanya dengan membangun rumah baru.
Kementerian Kebudayaan menyebut tim di lapangan melakukan penyisiran untuk menyelamatkan benda budaya yang masih mungkin ditemukan. Di antaranya sisa kain tenun, benda pusaka seperti keris dan tombak, serta fragmen manuskrip kuno.
Sejumlah laporan juga menyebut benda budaya seperti alat musik tradisional dan benda pusaka lainnya ikut terdampak.
Bayangkan sebuah keris yang selama bertahun-tahun disimpan dan diwariskan. Atau sebuah manuskrip yang menjadi bagian dari perjalanan sebuah keluarga dan masyarakat.
Nilainya bukan sekadar pada bahan pembuatnya. Ada cerita di dalamnya. Ada pengetahuan. Ada ingatan tentang orang-orang yang hidup jauh sebelum generasi sekarang. Ketika benda seperti itu hilang dalam hitungan jam, masyarakat tidak sekadar kehilangan barang.
Mereka kehilangan sebagian dari memori kolektif. Karena itulah pemulihan Sade nantinya tidak cukup hanya dengan menghitung berapa rumah yang harus dibangun kembali.
Ada warisan yang harus didata. Ada cerita yang harus dicatat. Dan ada pengetahuan yang harus dijaga agar tidak ikut hilang bersama abu.
Mengapa Api Cepat Menjalar di Permukiman Adat?

Kebakaran di kawasan Sade juga memperlihatkan tantangan yang dihadapi permukiman tradisional.
Rumah-rumah adat Sade menggunakan material tradisional, sementara bangunan berdiri berdekatan dalam satu kawasan. Kondisi tersebut membuat pencegahan dan penanganan kebakaran menjadi tantangan tersendiri ketika api mulai menyebar.
Karena itu, pelestarian rumah adat dan mitigasi bencana tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Menjaga bentuk rumah tradisional tetap penting. Tetapi memastikan kawasan tersebut memiliki sistem pencegahan dan penanganan kebakaran yang memadai juga sama pentingnya.
Ke depan, kawasan budaya seperti Sade membutuhkan perencanaan yang mempertimbangkan keduanya; warisan budaya tetap terjaga, masyarakat tetap aman.
Setelah Api Padam, Perjuangan Belum Selesai
Pagi setelah kebakaran mungkin menghadirkan pemandangan yang sulit dikenali.
Tempat yang sebelumnya dipenuhi rumah adat dan aktivitas masyarakat kini menyisakan puing. Namun bagi warga Sade, kehidupan tidak bisa berhenti di sana. Mereka harus kembali memikirkan tempat tinggal. Kebutuhan sehari-hari. Sumber penghasilan. Peralatan bekerja.
Dan bagaimana kehidupan keluarga dapat berjalan setelah kehilangan yang begitu besar.
Karena itu, masa setelah api padam sesungguhnya menjadi awal dari fase yang tidak kalah penting; pemulihan.
Pemerintah dan berbagai pihak telah melakukan penanganan pascakebakaran. BPBD Provinsi NTB juga meninjau langsung lokasi dan memastikan penanganan terhadap masyarakat terdampak dilakukan secara terpadu.
Di sisi lain, Kementerian Kebudayaan menyiapkan strategi pemulihan yang tidak hanya berfokus pada bangunan.
Ada tiga pilar utama yang disiapkan, yakni pemulihan fisik bangunan tradisional dengan fasilitas mitigasi kebakaran, pemulihan ekonomi masyarakat, serta rekonstruksi Objek Pemajuan Kebudayaan.
Membangun Kembali Sade, Menjaga Identitasnya

Rumah dapat dibangun kembali. Kayu dapat dicari. Bambu dapat ditanam. Atap dapat dibuat kembali.
Namun ada pertanyaan yang lebih besar. Bagaimana dengan benda pusaka yang telah hilang? Bagaimana dengan manuskrip yang terbakar? Bagaimana dengan cerita yang selama ini hidup melalui benda, rumah, dan ruang tempat masyarakat menjalankan tradisinya?
Inilah alasan mengapa pemulihan Desa Adat Sade tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik. Sade perlu dibangun kembali tanpa kehilangan identitasnya.
Kementerian Kebudayaan menyatakan penyelamatan dilakukan dalam dua bentuk. Pertama, menyelamatkan objek fisik yang masih tersisa. Kedua, mendokumentasikan ingatan, cerita rakyat, sejarah lokal, dan pengetahuan tradisional dari para tetua adat.
Langkah kedua mungkin tidak terlihat seperti membangun rumah. Tetapi justru sangat penting. Sebab ketika sebuah benda tidak lagi bisa diselamatkan, ceritanya masih dapat diwariskan. Ketika sebuah rumah tidak lagi berdiri, pengetahuan tentang bagaimana rumah itu dibangun masih dapat dicatat.
Dan ketika sebuah tradisi terancam hilang, masyarakat masih memiliki kesempatan untuk memastikan generasi berikutnya mengenalnya.
Kebakaran Sade Membuka Pelajaran tentang Perlindungan Warisan Budaya
Peristiwa ini juga membuka persoalan lain yang tidak kalah penting.
Kementerian Kebudayaan menyampaikan bahwa hasil penelusuran awal menunjukkan Desa Adat Sade belum tercatat dalam Data Pokok Kebudayaan atau DAPOBUD Kabupaten Lombok Tengah. Pemerintah kemudian mendorong registrasi warisan budaya dan wilayah masyarakat adat agar memiliki perlindungan yang lebih kuat.
Hal tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan hanya tentang menjaga bangunan tetap berdiri. Warisan budaya juga membutuhkan pendataan, dokumentasi, perlindungan hukum, serta rencana penyelamatan ketika bencana terjadi.
Terlebih bagi kawasan yang menjadi tempat tinggal masyarakat sekaligus menyimpan nilai budaya.
Mitigasi kebakaran perlu menjadi bagian dari perencanaan pelestarian. Jalur akses pemadam perlu diperhatikan.Sistem peringatan dini perlu dipikirkan. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi kebencanaan. Dan benda-benda budaya yang memiliki nilai sejarah perlu memiliki rencana penyelamatan ketika keadaan darurat terjadi.
Sebab menjaga warisan budaya pada akhirnya juga berarti menjaga manusia yang mewarisinya.
Sade, Riwayatmu Belum Selesai

Mungkin hari ini Sade terlihat berbeda.
Tidak seramai sebelumnya. Tidak seutuh dulu. Sebagian rumah telah hilang. Sebagian benda bersejarah tidak lagi dapat diselamatkan. Namun riwayat sebuah kampung tidak berhenti ketika rumah-rumahnya terbakar.
Riwayat itu hidup di dalam orang-orang yang masih tinggal di sana. Di tangan para penenun. Di cerita para tetua. Di ingatan anak-anak yang pernah tumbuh di antara rumah-rumah adat Dan pada masyarakat yang kini harus kembali menata kehidupan dari awal.
Sade telah melewati banyak generasi. Kebakaran mungkin mengambil sebagian rumahnya dalam satu malam. Tetapi semoga tidak mengambil semangat masyarakatnya untuk menjaga warisan yang telah mereka rawat begitu lama.
Sebab Sade bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh wisatawan. Sade adalah tentang sebuah masyarakat yang memilih untuk menjaga identitasnya. Dan ketika sebuah rumah adat terbakar, tugas kita bukan hanya melihat puingnya. Tetapi memastikan riwayat yang ada di balik puing itu tidak ikut hilang.
Karena rumah bisa dibangun kembali. Tetapi sebuah cerita, jika tidak dijaga, bisa benar-benar hilang.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Kebakaran Desa Adat Sade?
Kebakaran Desa Adat Sade menjadi pengingat bahwa kawasan wisata budaya juga membutuhkan kesiapsiagaan bencana.
Pelestarian budaya dan mitigasi bencana seharusnya berjalan bersama.
Kawasan yang menyimpan warisan sejarah membutuhkan sistem pencegahan kebakaran, akses pemadam yang memadai, jalur evakuasi, edukasi kebencanaan bagi masyarakat, serta rencana penyelamatan benda-benda bersejarah ketika bencana terjadi.
Sebab menjaga warisan budaya bukan hanya tentang mempertahankan bentuk bangunannya. Tetapi juga memastikan masyarakat yang merawatnya tetap aman.
Dan ketika bencana datang, mereka memiliki kemampuan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin kehidupan, pengetahuan, dan warisan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Sade, riwayatmu memang sedang terluka. Tetapi semoga dari abu itu lahir sebuah babak baru: tentang bangkit, menjaga, dan mewariskan kembali cerita Sade kepada generasi berikutnya.
Klik disini untuk ikut berkontribusi dalam pemulihan Desa Adat Sade. Karena bantuan sekecil apapun dapat meringankan langkah warga Sade untuk kembali menata rumah dan kehidupan mereka.

