Musim Dingin Palestina Kembali Datang, Warga Gaza Bersiap Menghadapi Dingin Tanpa Tempat Tinggal yang Layak

Oct 12, 2026 | Artikel, Berita, Blog, Palestina

Bagi sebagian orang, musim dingin mungkin berarti udara yang sejuk, pakaian hangat, dan waktu berkumpul bersama keluarga di rumah.

Namun bagi banyak keluarga Palestina, musim dingin datang dengan kekhawatiran yang berbeda.

Bukan hanya tentang suhu yang menurun, tetapi tentang bagaimana melewati malam ketika tempat tinggal tidak cukup melindungi dari dingin, hujan, angin, bahkan banjir.

Memasuki musim dingin 2026–2027, kondisi tersebut kembali menjadi perhatian kemanusiaan. Laporan terbaru United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) pada 2 Oktober 2026 menyebutkan bahwa para mitra kemanusiaan di Gaza sedang meningkatkan persiapan menghadapi musim dingin dan musim hujan, termasuk memperbaiki drainase, memperkuat tempat tinggal, serta mengurangi risiko banjir di lokasi-lokasi pengungsian. Namun, upaya tersebut masih menghadapi keterbatasan pendanaan, akses, serta masuknya material dan perlengkapan penting.

Bagi mereka yang tinggal di tenda atau bangunan yang rusak, perubahan cuaca bukan sekadar ketidaknyamanan. Ia dapat menjadi ancaman baru bagi keselamatan dan kesehatan.

Ketika Tenda Tidak Cukup Melindungi dari Dingin

Kondisi deretan tenda pengungsian Palestina yang rentan terhadap hujan dan banjir musim dingin.

Selama bertahun-tahun, konflik dan perpindahan paksa telah membuat banyak keluarga Palestina hidup jauh dari rumah mereka.

Di Gaza, kondisi tempat tinggal yang tidak layak membuat musim dingin terasa jauh lebih berat. Tenda dan tempat penampungan sementara harus menghadapi hujan, angin kencang, genangan, serta suhu malam yang rendah.

OCHA mencatat bahwa persiapan musim dingin tahun ini masih menghadapi kekurangan perlengkapan tempat tinggal dan kebutuhan non-pangan. Stok yang tersedia mencakup sekitar 17.000 tenda, terpal, dan sealing-off kits untuk sekitar 50.000 keluarga, pakaian musim dingin untuk sekitar 9.000 keluarga, serta perlengkapan tidur untuk sekitar 50.000 keluarga. Namun jumlah tersebut masih belum mencukupi dibandingkan dengan skala kebutuhan di Gaza.

Risikonya juga tidak hanya berasal dari suhu dingin.

Tempat tinggal yang rapuh, drainase yang buruk, dan hujan deras dapat menyebabkan air masuk ke dalam tenda atau kawasan pengungsian. Kondisi basah dan lembap kemudian dapat memperburuk masalah kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang-orang yang memiliki kondisi kesehatan rentan.

Anak-Anak Menjadi Salah Satu Kelompok Paling Rentan

Relawan menyalurkan bantuan jaket musim dingin Palestina kepada anak di pengungsian Gaza.

Musim dingin selalu membawa risiko lebih besar bagi anak-anak yang hidup dalam kondisi pengungsian.

UNRWA pada Januari 2026 menggambarkan bagaimana dingin, hujan deras, dan banjir memperburuk risiko kesehatan anak-anak di Gaza. Kondisi tersebut berlangsung di tengah kepadatan tempat pengungsian serta keterbatasan layanan air, sanitasi, dan kesehatan.

OCHA juga memperkirakan sekitar 650.000 anak di Gaza membutuhkan dukungan winterization untuk perlindungan anak. Lebih dari 450 ruang ramah anak dan ruang aman beroperasi di Gaza, tetapi lebih dari 90 persen di antaranya berada di tenda atau struktur sementara yang tetap rentan terhadap hujan, banjir, angin, dan suhu dingin.

Karena itu, bantuan musim dingin bukan hanya tentang memberikan pakaian hangat.

Selimut, kasur, perlengkapan tidur, terpal, pakaian musim dingin, hingga tempat tinggal yang lebih aman dapat menjadi bagian penting untuk membantu keluarga melewati musim dingin dengan lebih terlindungi.

Musim Dingin Bukan Hanya Persoalan Suhu

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan musim dingin di wilayah konflik: dingin datang ketika banyak kebutuhan dasar belum terpenuhi.

Bagi keluarga yang tinggal di rumah yang utuh dan memiliki listrik, pemanas, pakaian hangat, serta makanan cukup, suhu rendah mungkin hanya terasa sebagai perubahan cuaca.

Tetapi bagi keluarga yang tinggal di tenda atau bangunan rusak, dingin datang bersama persoalan lain.

Bagaimana mengeringkan pakaian yang basah?

Bagaimana menjaga anak tetap hangat ketika selimut tidak cukup?

Bagaimana melindungi tempat tinggal dari hujan?

Dan bagaimana mendapatkan makanan hangat ketika bahan bakar dan kebutuhan dasar juga terbatas?

Karena itu, persiapan musim dingin menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan.

OCHA menyebutkan bahwa kebutuhan tersebut semakin mendesak karena musim dingin semakin dekat, sementara stok perlengkapan shelter dan non-food items masih terbatas.

Amanah untuk Hadirkan Bantuan Musim Dingin

Kebutuhan tersebut bukan sesuatu yang hanya dibicarakan dari jauh.

Relawan Nusantara bersama Konsorsium Kebaikan Indonesia telah beberapa kali ikut menghadirkan bantuan bagi masyarakat Palestina yang menghadapi musim dingin.

Pada 7 Januari 2026, bantuan kemanusiaan disalurkan kepada keluarga pengungsi di Kamp Jabal Nadzif. Bantuan tersebut mencakup makanan siap saji, bahan pangan pokok, serta bantuan musim dingin untuk membantu keluarga menghadapi kondisi cuaca yang dingin.

Sebelumnya, bantuan juga disalurkan ke kamp pengungsi di kawasan perbatasan Tepi Barat. Dalam penyaluran tersebut, Konsorsium Kebaikan Indonesia bersama mitra, termasuk Relawan Nusantara, menyalurkan 200 paket winter aid, 200 paket bahan pangan, dan 400 paket makanan siap saji kepada keluarga yang membutuhkan.

Bantuan tersebut mungkin tidak mengubah seluruh keadaan yang mereka hadapi.

Namun satu paket winter aid dapat membantu membuat satu keluarga melewati malam dengan lebih hangat.

Satu paket makanan dapat membantu memenuhi kebutuhan hari itu.

Dan satu bentuk kepedulian dapat menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian.

Dari Indonesia, Kehangatan Terus Dikirimkan

Jarak Indonesia dan Palestina terbentang ribuan kilometer.

Namun kemanusiaan tidak berhenti karena jarak.

Setiap bantuan yang dikirimkan adalah bentuk kepedulian dari orang-orang yang memilih untuk tetap hadir, bahkan ketika mereka tidak dapat berada langsung di tengah masyarakat Palestina.

Musim dingin kembali datang.

Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya sebuah musim. Tetapi bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, musim dingin dapat menjadi ujian lain yang harus dilewati.

Karena itu, menghadirkan selimut, pakaian hangat, makanan, perlengkapan tidur, dan kebutuhan musim dingin bukan sekadar memberikan barang.

Ia adalah cara sederhana untuk menghadirkan rasa hangat di tengah keadaan yang belum juga mudah.

Relawan Nusantara bersama para donatur dan mitra akan terus berikhtiar agar kepedulian dari Indonesia dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab ketika dingin datang, semoga tidak ada satu pun keluarga yang merasa harus menghadapinya sendirian. Mari bantu musim dingin di Palestina.