Abdullah bin Ummi Maktum: Terhalang dalam Pandangan, Namun Menuntun dengan Iman

Aug 15, 2025 | Artikel, Blog, kemanusiaan

Di balik bentang alam yang indah di Nusa Tenggara Timur, tersimpan kisah yang tidak banyak terdengar. Tentang anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan, tentang keluarga yang harus bertahan dengan apa yang ada. Banyak anak di NTT tumbuh tanpa asupan gizi yang cukup. Tubuh mereka memang bertambah usia, tetapi tidak selalu berkembang sebagaimana mestinya. Dalam dunia kesehatan, kondisi ini dikenal sebagai stunting, sebuah keadaan ketika anak mengalami gagal tumbuh akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Namun bagi mereka, ini bukan istilah medis. Ini adalah kenyataan hidup.

Ketika Daging Menjadi Makanan yang Sulit Dijangkau

Di tengah kondisi itu, daging bukanlah makanan yang mudah dijangkau. Ia bukan sesuatu yang bisa hadir setiap minggu, bahkan setiap bulan. Bagi banyak keluarga dhuafa, daging adalah kemewahan yang hanya bisa dibayangkan, atau paling tidak, ditunggu saat momen tertentu seperti hari raya. Padahal di dalam sepotong daging, tersimpan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Seperti protein untuk membangun jaringan, zat besi untuk mencegah anemia, serta vitamin yang mendukung perkembangan otak anak.

Ketika tubuh anak-anak kekurangan asupan ini dalam waktu lama, dampaknya tidak hanya terlihat pada fisik mereka, tetapi juga pada masa depan mereka. Mereka berisiko mengalami keterlambatan belajar, mudah sakit, hingga kehilangan kesempatan untuk tumbuh menjadi generasi yang kuat. Di titik inilah, sedekah daging menjadi lebih dari sekadar berbagi makanan. Ia berubah menjadi intervensi nyata terhadap masa depan.

Yatim dan Dhuafa: Mereka yang Paling Merasakan Dampaknya

Terlebih bagi anak-anak yatim dan keluarga dhuafa. Mereka adalah kelompok yang paling merasakan dampak dari keterbatasan ini. Kehilangan sosok pencari nafkah atau hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit membuat akses terhadap makanan bergizi semakin jauh. Dalam banyak kasus, mereka harus puas dengan makanan seadanya, yang sekadar mengenyangkan, tetapi tidak cukup untuk menyehatkan.

Maka ketika sedekah daging hadir, yang datang bukan hanya makanan. Tetapi juga sesuatu yang jarang mereka rasakan. Kehangatan. Kepedulian. Dan harapan.

Bayangkan seorang anak yang selama ini hanya makan nasi dengan lauk sederhana, tiba-tiba bisa merasakan daging yang kaya gizi. Bukan hanya dirinya yang bahagia, tetapi tubuhnya pun mendapatkan sesuatu yang selama ini kurang. Dalam jangka panjang, ini dapat membantu tubuhnya mengejar ketertinggalan gizi yang selama ini terjadi.

Tantangan Akses Pangan Bergizi di NTT

Di wilayah seperti NTT, tantangannya memang bukan hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga akses. Banyak daerah yang masih kesulitan mendapatkan bahan makanan bergizi secara rutin, baik karena faktor ekonomi maupun distribusi. Akibatnya, meskipun Indonesia kaya akan sumber pangan, tidak semua wilayah bisa merasakannya secara merata.

Sedekah Daging sebagai Jembatan Kebaikan

Di sinilah sedekah daging memiliki peran yang begitu penting. Ia menjadi jembatan antara kelebihan dan kekurangan. Menghubungkan mereka yang mampu dengan mereka yang membutuhkan. Mengalirkan kebaikan dari satu tempat ke tempat lain yang mungkin tidak pernah saling bertemu, tetapi terhubung melalui rasa kemanusiaan.

Dan ketika penyaluran itu dilakukan dengan tepat, kepada mereka yang benar-benar membutuhkan seperti yatim dan dhuafa di wilayah rawan stunting, maka dampaknya menjadi jauh lebih besar. Sedekah yang mungkin terasa sederhana bagi pemberinya, berubah menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi penerimanya.

Melalui peran lembaga seperti yang dilakukan oleh Relawan Nusantara sebagai perantara kebaikan, sedekah daging yang sahabat laksanakan tidak hanya disalurkan, tetapi juga diarahkan agar memberikan manfaat yang maksimal. Bukan hanya dibagikan, tetapi juga memastikan bahwa setiap potong daging sampai kepada mereka yang paling membutuhkan, di tempat yang paling jarang tersentuh.

Di balik setiap distribusi, ada cerita yang mungkin tidak pernah kita lihat. Tentang senyum anak-anak yang akhirnya bisa menikmati makanan bergizi. Tentang ibu-ibu yang merasa sedikit lega karena anaknya hari itu makan lebih baik dari biasanya. Dan tentang harapan kecil yang perlahan tumbuh, bahwa hidup mereka bisa menjadi lebih baik.

Saatnya Mengambil Peran dalam Kebaikan

Klik disini untuk ikut berbagi kebaikan melalui sedekah daging. Karena pada akhirnya, sedekah daging bukan hanya tentang memberi makan hari ini. Namun juga tentang menjaga kehidupan esok hari. Tentang memastikan bahwa anak-anak di NTT memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, kuat, dan berdaya.

Mungkin kita tidak bisa mengubah seluruh dunia sekaligus. Tetapi dari satu sedekah daging, kita bisa mengubah satu kehidupan. Dan dari satu kehidupan, akan lahir perubahan yang lebih besar.

Maka ketika kesempatan itu ada, mungkin yang dibutuhkan hanyalah satu langkah kecil, untuk peduli, dan berani mengambil bagian.

Bersama Relawan Nusantara, sedekah daging yang kita salurkan bukan hanya sampai ke tangan mereka, tetapi juga sampai ke masa depan mereka.

Di tengah barisan para sahabat yang gagah dan berilmu, ada seorang lelaki tunanetra yang namanya diabadikan Allah dalam Al Quran. Dialah Abdullah bin Ummi Maktum radhiallahu ‘anhu, seorang muadzin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang pejuang, seorang pecinta Al Quran yang tidak pernah menjadikan keterbatasannya sebagai alasan untuk mundur.

Muadzin Kedua Rasulullah ﷺ yang Mengawal Waktu Subuh

Ketika banyak orang hanya mengenal Bilal bin Rabah sebagai muadzin Rasulullah ﷺ , Abdullah bin Ummi Maktum juga memegang amanah yang sama mulianya. Saat Bilal mengumandangkan adzan di sepertiga malam, Abdullah bin Maktum akan mengumandangkan adzan Subuh, memastikan kaum muslimin tidak tertinggal shalat pertama di awal hari.

Dari Ibnu ‘Umar dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Bilal akan berazan pada malam hari, maka makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum berazan.” Ibnu Ummi Maktum adalah laki-laki buta yang tidak akan berazan kecuali setelah ada yang berkata, ‘Telah masuk waktu shubuh, telah masuk waktu Shubuh.

(Muttafaqun ‘alaih.)

[HR. Bukhari, no. 617 dan Muslim, no. 1092, ini hadits dari Ibnu ‘Umar; HR. Bukhari, no. 622 dan Muslim, no. 1092, ini hadits dari Aisyah]

Abdullah bin Ummi Maktum juga bukan hanya seorang penyeru adzan. Setiap kali Rasulullah ﷺ pergi berperang, Abdullah bin Ummi Maktum dipercaya untuk memimpin Madinah. Tercatat, tidak kurang dari tiga belas kali ia diangkat menjadi walikota sementara. Sebuah kepercayaan yang Rasulullah ﷺ berikan kepada seorang sahabat tunanetra. Bukti bahwa di mata beliau, keterbatasan fisik bukanlah hambatan untuk memikul amanah.

Teguran Ilahi yang Mengabadikan Namanya

Namun, puncak kemuliaan Abdullah bin Ummi Maktum bukan hanya pada kepercayaan dari Rasulullah ﷺ , tapi saat Allah menegur langsung Nabi Muhammad ﷺ dalam surah ‘Abasa, karena berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum yang datang kepada beliau sebab ingin belajar AlQuran, sementara Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan para pembesar Quraisy. Sejak saat itu, Abdullah bin Ummi Maktum dimuliakan oleh Allah, dengan cara yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun.

Gugur di Medan Jihad, Hidup dalam Cahaya Iman

Abdullah bin Ummi Maktum menutup hidupnya di medan jihad, memegang panji Islam dalam Perang Qadisiyah, lalu gugur syahid di jalan Allah. Hingga akhir hidupnya, ia adalah sosok panutan, seorang tunanetra yang tak pernah buta dari cahaya iman dan tak pernah mundur dari barisan perjuangan.

Saatnya Kita Memuliakan Penyandang Disabilitas Seperti Rasulullah ﷺ

Inilah teladan yang Rasulullah ﷺ contohkan, yakni memampukan dan memberi kesempatan pada mereka yang memiliki keterbatasan.  Rasulullah ﷺ memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum, memberi peran, kepercayaan, dan ruang untuk berkontribusi. Abdullah bin Ummi Maktum tidak di pandang dengan belas kasihan, tetapi diberi amanah untuk memimpin dan berjuang. Dari kisah ini kita belajar, bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tersisih.

Sedangkan saat ini, di zaman kita, masih banyak penyandang disabilitas yang terpinggirkan, bukan karena tidak mampu, tetapi karena belum diberi kesempatan. Mereka butuh modal, pelatihan, dan pendampingan untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri. Bukan sekadar diberi belas kasihan, tetapi dipercaya, sebagaimana Rasulullah ﷺ memberikan kepercayaan kepada Abdullah bin Ummi Maktum.

Bukan Sekadar Memberi, Tapi Memampukan

Mari wujudkan bersama. Bantuan yang bisa kita salurkan bukan hanya berupa Al Quran Braille untuk menemani mereka mendekat kepada Allah, tetapi juga berupa modal usaha, agar mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Satu uluran tangan kita dapat mengubah hidup mereka dan menjadi amal jariyah yang tak terputus hingga akhirat.

Klik di sini untuk berdonasi dan ikut #LuaskanManfaat bersama kami. Sebab setiap keterbatasan, bisa menjadi kekuatan ketika diberi ruang untuk tumbuh.