Abdurrahman bin Auf: Sahabat yang Dermawan Tanpa Batas

Jul 10, 2025 | Artikel, Blog

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Teladan bagi para relawan, inspirasi bagi para dermawan.

Di antara sahabat Rasulullah ﷺ, ada satu nama yang bersinar karena kemurahan hatinya: Abdurrahman bin Auf. Ia bukan hanya seorang pengusaha sukses, tapi juga dermawan sejati yang menjadikan hartanya sebagai jalan untuk menebar manfaat.

Sejak awal Islam datang, Abdurrahman bin Auf telah menyerahkan kenyamanannya. Ia dua kali hijrah ke Habasyah dan Madinah meninggalkan semua demi agama. Namun di Madinah, ia memulai kembali hidupnya dari nol. Ketika dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, ia ditawari setengah harta. Tapi jawabannya justru:

“Tunjukkan saja di mana pasar, aku akan berusaha sendiri.”

Dalam waktu singkat, Abdurrahman membangun usaha yang berkah. Tapi bukan itu yang membuatnya istimewa melainkan bagaimana dia mengelola hartanya untuk akhirat. Ia pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar, lalu membaginya kepada fakir miskin, keluarga Nabi, dan kaum yang membutuhkan. Bahkan ia berwasiat memberi 400 dinar kepada seluruh veteran Perang Badar jumlahnya mencapai 100 orang!

Kedermawanannya Bukan Sekadar Jumlah

Satu hari, makanan terhidang di hadapannya. Tapi ia justru menunduk, meneteskan air mata.

“Mush’ab bin Umair telah gugur, padahal dia lebih mulia dariku. Hamzah juga syahid, dan kami bahkan tak punya cukup kain kafan untuk menutup tubuh mereka… Aku khawatir, jangan-jangan semua balasan amalku sudah diberikan di dunia…”

Ia lalu menyingkirkan makanan, tak sanggup menelannya.

Inilah wajah lain dari seorang dermawan: hatinya lembut, jiwanya peka, amalnya ikhlas.

Jejak Abdurrahman bin Auf untuk Kita Hari Ini

Di zaman ini, banyak yang ingin jadi kaya. Tapi berapa banyak yang seperti Abdurrahman kaya tapi sederhana, sibuk tapi sempat berbagi, punya banyak tapi tak pernah pelit?

Relawan Nusantara belajar banyak darinya:

  • Harta bukan untuk ditimbun, tapi untuk disalurkan.
  •  Nama besar tak berarti jika tak dibarengi ketulusan.
  • Kebaikan sejati adalah saat tidak ada yang melihat kecuali Allah.

Dalam salah satu hadis, Rasulullah ﷺ bersabda tentang Abdurrahman:

“Semoga Allah memberi minum kepada Abdurrahman bin Auf dengan air dari surga.” (HR. Ahmad)

Teladan Bagi Kita:

Mari jadi seperti Abdurrahman bin Auf yang tak hanya sukses secara materi, tapi juga mulia secara hati. Karena dunia ini sementara, tapi amal baik akan hidup selamanya.

“Mari luaskan manfaat, seperti Abdurrahman bin Auf yang menjadikan hartanya sebagai jalan menuju surga.”