Bukan Hanya Dermawan, Utsman bin Affan Pun Memiliki Sifat Pemalu

Jul 16, 2025 | Artikel, Blog

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Utsman bin Affan: Sahabat Pemalu yang Luaskan Manfaat hingga Lebih dari 1.400 Tahun

Dalam sejarah Islam, Utsman bin Affan bukan hanya dikenal sebagai sahabat Nabi Muhammad yang kaya dan dermawan, tetapi juga sebagai sosok yang amat pemalu. Di balik kelembutannya, terdapat kekuatan besar dalam memberi. Salah satu kisah legendaris yang menunjukkan kemurahan hatinya adalah saat beliau membebaskan Sumur Raumah demi kepentingan umat Islam.

Sumur Raumah dan Krisis Air di Madinah

Pada masa Nabi Muhammad , Kota Madinah pernah dilanda masa sulit berupa kekeringan dan krisis air bersih. Kaum Muhajirin yang terbiasa minum air zamzam di Makkah kini harus bergantung pada satu-satunya sumber air, yaitu Sumur Raumah, milik seorang Yahudi. Namun, untuk mendapat air dari sumur tersebut, penduduk Madinah harus membeli dengan harga tertentu.

Melihat kondisi tersebut, Rasulullah bersabda:

“Siapa saja di antara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surga Allah Ta’ala.” (HR Muslim)

Utsman bin Affan Membeli Sumur Raumah

Mendengar sabda Nabi itu, Utsman bin Affan RA, sahabat yang dikenal sangat dermawan, segera bergerak. Ia mendatangi pemilik sumur dan menawarkan harga tinggi untuk membelinya. Namun, tawaran itu ditolak dengan alasan bahwa sumur tersebut menjadi sumber pendapatan utama bagi si pemilik.

Tidak kehilangan akal, Utsman lalu mengajukan tawaran cerdas: ia membeli setengah kepemilikan sumur itu. Artinya, satu hari digunakan oleh Utsman untuk umat Islam secara gratis, hari berikutnya kembali ke pemilik lamanya. Tawaran itu disetujui.

Pada hari giliran Utsman, penduduk Madinah antre mengambil air secara gratis. Utsman bahkan meminta mereka menyimpan cukup air untuk dua hari, agar esoknya tidak perlu membeli saat giliran kembali ke pemilik Yahudi.

Apa yang terjadi? Pada hari milik si Yahudi, tidak ada yang membeli air karena masyarakat masih memiliki persediaan. Akhirnya, si pemilik menyerah dan menawarkan sisa kepemilikan sumur kepada Utsman. Utsman pun membelinya dengan 20.000 dirham, dan kemudian mewakafkan seluruh sumur tersebut untuk umat Islam.

Wakaf yang Terus Mengalirkan Manfaat

Setelah diwakafkan, Sumur Raumah menjadi milik umat, dan siapa pun bisa mengambil air darinya tanpa bayar bahkan termasuk mantan pemiliknya yang Yahudi. Di sekitar sumur itu, tumbuh pohon-pohon kurma yang terus berkembang hingga kini berjumlah lebih dari 1.500 pohon.

Hasil dari kebun kurma tersebut kini dikelola oleh Departemen Pertanian Kerajaan Arab Saudi. Setengah keuntungan dari panennya disalurkan kepada anak yatim dan fakir miskin, sementara setengahnya lagi disimpan di rekening atas nama Utsman bin Affan.

Ya, Utsman bin Affan telah wafat lebih dari 1.400 tahun lalu, namun wakafnya masih hidup dan terus meluaskan manfaat hingga kini.

Sifat Malu yang Mulia

Di balik keteladanannya sebagai ahli sedekah, Utsman juga dikenal sebagai pribadi yang amat pemalu. Dalam sebuah riwayat dari Aisyah RA, diceritakan bahwa saat Abu Bakar dan Umar masuk ke rumah Rasulullah , beliau tetap berbaring. Namun ketika Utsman datang, Rasulullah langsung merapikan duduk dan menutup betisnya.

Aisyah pun bertanya, mengapa hanya kepada Utsman beliau bersikap demikian. Rasulullah menjawab:

“Utsman adalah orang yang pemalu. Tidakkah aku malu kepada orang yang bahkan para malaikat pun malu padanya?”

Malu, dalam Islam, bukan kelemahan. Justru ia adalah sifat mulia yang mendorong seseorang menjaga kehormatan dan memberi manfaat dengan cara yang halus, namun bermakna.

Luaskan Manfaat dengan Wakaf dan Sedekah

Kisah Utsman bin Affan mengajarkan kepada kita bahwa amal jariyah seperti wakaf dan sedekah bisa menjadi investasi abadi. Wakaf yang dikelola dengan baik tidak hanya menyelesaikan kebutuhan saat itu, tetapi juga menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat.

Di era modern ini, semangat itu masih sangat relevan. Relawan Nusantara mengajak kamu untuk ikut meluaskan manfaat sebagaimana yang dicontohkan oleh Utsman bin Affan. Melalui program-program sosial, air bersih, pangan, pendidikan, dan wakaf produktif, setiap rupiah yang kamu donasikan bisa menjadi ladang pahala yang terus mengalir.

Mari Terus Luaskan Manfaat

Melalui semangat para sahabat Nabi, mari kita terus hidupkan nilai-nilai kepedulian dan kebermanfaatan. Mungkin kita tidak bisa membeli sumur seperti Utsman bin Affan, tapi kita bisa berbuat dari apa yang kita punya.

Salurkan wakaf dan sedekahmu bersama Relawan Nusantara. Karena setiap amal kebaikan, sekecil apa pun, akan terus mengalir bila kita niatkan untuk meluaskan manfaat