Cara Membayar Hutang Puasa Ramadhan: Qadha atau Fidyah?

Feb 25, 2025 | Artikel, Blog, Ramadhan

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang diwajibkan bagi setiap Muslim untuk berpuasa. Namun, ada kalanya seseorang memiliki uzur yang menyebabkan ia tidak bisa menjalankan puasa di bulan suci ini. Islam memberikan solusi bagi mereka yang berhalangan dengan dua cara: qadha (mengganti puasa) atau fidyah (membayar tebusan). Lalu, bagaimana menentukan apakah harus qadha atau fidyah? Mari kita bahas lebih lanjut!

1. Qadha: Mengganti Puasa yang Tertinggal

Qadha adalah mengganti puasa yang tertinggal di luar bulan Ramadhan. Cara ini wajib dilakukan oleh mereka yang masih mampu berpuasa setelah Ramadhan berakhir.

Siapa yang wajib qadha?

  • Orang yang sakit sementara dan masih bisa sembuh.
  • Musafir yang melakukan perjalanan jauh.
  • Wanita yang sedang haid atau nifas.
  • Orang yang batal puasanya karena sebab tertentu, seperti muntah disengaja.
  • Ibu hamil atau menyusui yang tidak berpuasa karena khawatir terhadap dirinya sendiri.

Bagaimana cara qadha?

  • Mengganti puasa sesuai jumlah hari yang ditinggalkan sebelum Ramadan berikutnya.
  • Tidak wajib dilakukan berturut-turut, boleh dicicil sesuai kemampuan.
  • Dianjurkan untuk segera mengqadha agar tidak menumpuk.

2. Fidyah: Tebusan untuk yang Tidak Mampu Berpuasa

Fidyah adalah solusi bagi mereka yang benar-benar tidak mampu lagi mengganti puasa dengan qadha. Tebusan ini berupa pemberian makanan kepada fakir miskin sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkan.

Siapa yang wajib membayar fidyah?

  • Orang tua renta yang tidak mampu lagi berpuasa.
  • Orang dengan penyakit kronis atau tidak ada harapan sembuh.
  • Ibu hamil atau menyusui yang tidak berpuasa karena khawatir terhadap kondisi bayinya (menurut sebagian ulama).

Bagaimana cara membayar fidyah?

  • Memberikan makanan pokok (beras atau makanan siap santap) kepada fakir miskin.
  • Jumlah 1 mud (sekitar 0,75 kg beras) per hari puasa yang ditinggalkan.
  • Bisa dibayarkan sekaligus atau dicicil sesuai kemampuan.

Luaskan Manfaat, Tunaikan Fidyah melalui Relawan Nusantara

Membayar fidyah bukan hanya tentang menunaikan kewajiban, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berbagi dengan sesama. Dengan menyalurkan fidyah melalui Relawan Nusantara, Anda bisa membantu mereka yang membutuhkan di berbagi daerah. kami memastikan fidyah yang Anda berikan tersalurkan dalam bentuk makanan bergizi kepada mereka yang berhak menerimanya.

Jangan biarkan hutang puasa menumpuk! Segera tunaikan fidyah dan luaskan manfaat bagi saudara-saudara yang membutuhkan.  

Semoga Allah menerima ibadah kita semua dan menjadikannya ladang pahala yang berlipat ganda.

#RelawanNusantara #PerantaraKebaikan #Ramadhan #Fidyah