Kabut Asap Karhutla: Apa yang Harus Dilakukan Saat Kualitas Udara Memburuk?

Oct 9, 2026 | Artikel, Berita, Blog, Kebencanaan

Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, dampaknya tidak berhenti di area yang terbakar. Asap dapat terbawa angin dan membuat kualitas udara di wilayah sekitar ikut menurun.

Dalam kondisi seperti ini, aktivitas sehari-hari tetap harus berjalan. Anak-anak perlu belajar, orang tua harus bekerja, dan sebagian masyarakat tetap perlu bepergian. Namun, ketika udara memburuk, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap.

Mengapa Kabut Asap Perlu Diwaspadai?

Asap dari karhutla mengandung campuran gas toksik dan partikel halus (PM2.5) berukuran sangat kecil. Partikel halus tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan ketika terhirup.

Paparan asap dapat menyebabkan keluhan seperti mata terasa perih, tenggorokan teriritasi, batuk, atau sesak napas. Orang dengan penyakit jantung atau paru-paru, anak-anak, lansia, serta ibu hamil termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Karena itu, ketika kabut asap mulai pekat, menjaga tubuh dari paparan menjadi bagian penting dari upaya melindungi kesehatan.

1. Pantau Kondisi Kualitas Udara

Sebelum beraktivitas di luar rumah, biasakan memeriksa informasi kualitas udara dari sumber resmi seperti portal ISPU Kementerian LHK atau aplikasi pemantau udara. 

Jangan hanya melihat apakah langit terlihat cerah atau berasap. Kualitas udara dapat berubah sepanjang hari dan tidak selalu dapat dinilai hanya dari pandangan mata.

Jika kualitas udara berada pada kondisi yang tidak sehat, pertimbangkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat.

2. Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Ketika asap semakin pekat, berada di luar ruangan dalam waktu lama dapat meningkatkan jumlah asap yang terhirup.

Jika tidak ada kebutuhan mendesak, aktivitas di luar rumah sebaiknya dikurangi. Bagi masyarakat yang tetap harus bekerja atau bepergian, usahakan memilih waktu dan rute yang memungkinkan paparan asap lebih rendah.

Anak-anak juga sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk.

3. Gunakan Masker yang Tepat

Masker dapat membantu mengurangi paparan terhadap partikel udara, tetapi tidak semua jenis masker memberikan perlindungan yang sama terhadap asap.

Masker respirator seperti N95, KN95, atau yang memiliki kemampuan filtrasi partikel setara dapat membantu menyaring partikel halus ketika digunakan dengan benar dan menutup hidung serta mulut dengan rapat.

Masker yang longgar atau tidak menutup wajah dengan baik tidak memberikan perlindungan yang sama.

4. Jaga Kualitas Udara di Dalam Rumah 

Ketika kualitas udara di luar memburuk, rumah dapat menjadi tempat untuk mengurangi paparan asap.

Tutup pintu dan jendela ketika asap di luar sedang pekat. Jika menggunakan pendingin ruangan atau sistem ventilasi, gunakan pengaturan yang membantu mengurangi masuknya udara luar yang tercemar.

Hindari pula menambah sumber polusi di dalam rumah, seperti membakar sampah, merokok, atau aktivitas lain yang menghasilkan asap.

Jika tersedia, penggunaan alat penyaring udara dengan HEPA filter dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.

5. Perhatikan Anak-Anak dan Kelompok Rentan

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika terjadi kabut asap.

Mereka sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan dan berada di tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.

Untuk anak-anak, kegiatan bermain di luar rumah sementara waktu dapat digantikan dengan aktivitas di dalam ruangan ketika kualitas udara tidak mendukung.

6. Kenali Tanda-Tanda Gangguan Kesehatan 

Paparan asap dapat menimbulkan berbagai keluhan. Beberapa di antaranya adalah:

  • mata perih atau berair;
  • hidung dan tenggorokan terasa teriritasi;
  • batuk;
  • sakit kepala;
  • napas terasa berat atau sesak;
  • mudah lelah.

Jika muncul keluhan yang berat, terutama kesulitan bernapas atau kondisi kesehatan yang memburuk, jangan menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pertolongan medis.

Ketika Asap Datang, Saling Menjaga Menjadi Penting

Karhutla mungkin bermula dari satu titik, tetapi dampaknya dapat dirasakan oleh banyak orang.

Ketika kualitas udara memburuk, menjaga diri sendiri juga berarti menjaga orang-orang di sekitar. Mengingatkan keluarga untuk mengurangi aktivitas luar rumah, memastikan anak-anak tetap berada di lingkungan yang lebih aman, atau membantu tetangga yang membutuhkan dapat menjadi bentuk kepedulian sederhana.

Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar, dukungan juga dapat hadir dalam berbagai bentuk.

Di tengah kondisi karhutla Palangka Raya, misalnya, Relawan Nusantara menghadirkan Pos Segar dan layanan kesehatan mobile untuk masyarakat yang tetap beraktivitas di lapangan.

Sebab dalam situasi bencana, tidak semua orang dapat berhenti dan berlindung. Ada yang tetap harus bergerak. Dan mereka membutuhkan dukungan agar dapat melewati hari dengan lebih aman.

Tetap Waspada, Tetap Saling Menjaga

Kabut asap bukan hanya tentang jarak pandang yang berkurang atau langit yang berubah warna. Di baliknya ada masyarakat yang harus beradaptasi dengan kondisi udara yang tidak biasa.

Mengetahui kondisi udara, mengurangi paparan, menggunakan perlindungan yang tepat, serta memperhatikan kelompok yang lebih rentan adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan bersama.

Karena ketika udara sedang tidak bersahabat, menjaga diri adalah langkah pertama. Saling menjaga adalah langkah berikutnya. Mari bantu masyarakat dan para relawan di tengah karhutla Kalimantan.