Dalam Kondisi Bencana, Apakah Sholat Harus Tetap Dikerjakan?

Dec 10, 2025 | Artikel, Bencana, Blog, kemanusiaan

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Sore itu, udara di sekitar posko pengungsian masih dipenuhi bau lumpur dan sisa-sisa air yang baru surut. Para penyintas terlihat mondar-mandir, mencari kehangatan dan ketenangan setelah hari yang penuh kepanikan. Tatapan mereka menyimpan satu kegelisahan yang kerap muncul dalam situasi seperti ini bagaimana dengan shalat yang terlewat?

Bencana selalu datang tanpa memberi waktu bersiap. Ketika air banjir menerjang atau tanah mulai bergerak, manusia hanya punya satu pilihan yaitu menyelamatkan diri. Dalam kondisi inilah, banyak orang kehilangan kesempatan menunaikan shalat pada waktunya. Namun syariat Islam tidaklah kaku, ia memberi ruang bagi manusia untuk tetap beribadah tanpa terbebani oleh keadaan yang di luar kendali.

Di tengah kesibukan posko dan ketidakpastian yang melingkupi penyintas, ada keringanan besar yang Allah berikan rukhsah. Salah satu bentuknya adalah kebolehan menjamak shalat. Bagi mereka yang terpaksa meninggalkan rumah, kehilangan akses ke tempat ibadah, atau terjebak dalam proses evakuasi yang panjang, menjamak shalat menjadi jalan untuk tetap terhubung dengan Allah tanpa menambah beban di tengah kesulitan. Jamak taqdim maupun jamak ta’khir dapat dilakukan sesuai situasi yang lebih aman dan memungkinkan.

Kewajiban yang Tetap Ada namun Diberi Kemudahan

Kewajiban shalat sendiri tidak hilang hanya karena bencana. Ia tetap melekat selama akal seseorang masih ada, dan tidak sedang dalam kondisi haid atau nifas. Namun ketika keadaan darurat menghalangi seseorang untuk shalat tepat waktu, syariat memberi izin untuk menunaikannya saat situasi sudah lebih stabil. Inilah bentuk kasih sayang Allah bukan untuk menyulitkan, tapi untuk memudahkan hambanya di saat keadaan memaksa.

Keringanan dalam menjamak shalat juga tidak memiliki batas waktu tertentu. Selama situasi bencana masih menciptakan kesulitan dan kesempitan, selama ibadah secara normal tidak dapat dijalankan, selama itulah keringanan itu berlaku. Tidak ada aturan yang memaksa seseorang harus kembali ke kondisi normal sebelum mereka benar-benar mampu melakukannya.

Di posko yang diterangi cahaya temaram, para penyintas terus berusaha bangkit dari situasi berat yang menimpa mereka. Namun ada ketenangan kecil yang mengalir di antara kepenatan, keyakinan bahwa Allah tidak pernah membebani hamba-Nya di luar kemampuan. Ibadah tetap bisa dijalankan, dengan cara yang dipermudah, dengan hati yang tetap terhubung meski dunia sekitar sedang porak-poranda.

Di tengah bencana, keringanan ini bukan hanya aturan fikih ia adalah pelukan lembut dari langit. Sebuah pengingat bahwa dalam kondisi paling genting pun, Allah selalu menyediakan jalan untuk kembali kepada-Nya.

Menghadirkan Kenyamanan Ibadah di Masa Sulit

Namun dibalik semua keringanan itu, ada satu hal yang sulit disembunyikan yaitu kerinduan untuk bisa beribadah dengan nyaman. Banyak penyintas yang hanya menyisakan sajadah lusuh atau mukena yang basah saat evakuasi. Ada pula yang kehilangan seluruh perlengkapan ibadahnya, sehingga harus shalat di atas terpal, tanah becek, atau kain seadanya. Kenyamanan yang biasanya dirasakan saat sujud di rumah kini berganti menjadi rasa dingin, keras, dan kadang tidak layak.

Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan alat sholat sederhana seperti sajadah, mukena bersih, atau sarung menjadi sangat berarti. Benda-benda yang tampak kecil itu memberikan rasa tenang, menjaga kekhusyuan, sekaligus menjadi pelindung dari kotoran di sekitar posko. Bagi banyak penyintas, memiliki kembali perlengkapan sholat bukan sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga penopang ketenangan batin di tengah masa sulit.

Di tengah upaya pemulihan yang masih panjang, dukungan sahabat dapat menjadi kekuatan bagi para penyintas untuk bangkit kembali. Klik disini untuk ikut hadir bagi para penyintas bersama Relawan Nusantara. Bersama membantu mereka yang terdampak dengan memberikan donasi terbaik agar bantuan terus menjangkau wilayah-wilayah yang masih membutuhkan.