Dari Opak Ketan hingga Dorayaki: Dua Kisah Perjuangan di Sukaratu yang Mengajarkan Kita Arti Bertahan dan Berbagi

Nov 14, 2025 | Berita, Blog, Pangan

Kamis, 5 Maret 2026 menjadi hari yang berbeda bagi para santri yatim dan dhuafa di masjid Fathul Khoir kawasan Cibiru, Kota Bandung. Ketika kegiatan Sedekah Buka Puasa diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya menghadirkan kebahagiaan di bulan yang penuh keberkahan ini.

Program ini menyalurkan hidangan berbuka puasa kepada 200 santri yatim dan dhuafa yang selama ini belajar dan beraktivitas di lingkungan masjid. Lebih dari sekadar makanan untuk berbuka, kegiatan ini menghadirkan kehangatan kebersamaan yang sering kali menjadi hal sederhana namun sangat berarti bagi mereka.

Ramadhan yang Menghadirkan Kepedulian

Menjelang sore, para relawan mulai menyiapkan hidangan berbuka puasa yang akan dibagikan kepada para santri. Dengan penuh semangat, mereka memastikan setiap paket makanan tersusun rapi dan siap didistribusikan. Sebanyak empat orang relawan bersama pengurus DKM Masjid Fathul Khoir bekerja sama menyiapkan dan membagikan hidangan tersebut.

Ketika waktu berbuka semakin dekat, para santri mulai berkumpul di aula masjid. Beberapa terlihat saling bercanda, sementara yang lain duduk dengan tenang menunggu adzan Maghrib berkumandang. Suasana sederhana itu menghadirkan kehangatan tersendiri, seolah mengingatkan bahwa Ramadhan tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang merasakan kebersamaan.

Hidangan yang disajikan kemudian dibagikan secara langsung kepada para santri. Setelah semuanya menerima bagian masing-masing, mereka berbuka puasa bersama dalam suasana penuh kekeluargaan.

Kebahagiaan Sederhana yang Membawa Dampak Besar

Momen duduk bersama, menyantap hidangan yang sama, dan berbagi cerita menjadi pengalaman yang memperkuat rasa kebersamaan di antara mereka. Kegiatan sederhana ini juga memberikan pesan kuat bahwa masih banyak orang yang peduli dan ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.

Di balik setiap paket hidangan berbuka, terdapat kepedulian dari sahabat yang memilih untuk berbagi rezekinya. Setiap makanan yang sampai ke tangan para santri adalah bukti nyata bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat memberikan dampak besar bagi mereka yang membutuhkan.

Apresiasi dari Pengurus Masjid

Pihak DKM Masjid Fathul Khoir menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan sosial ini. Mereka menilai bahwa program sedekah buka puasa seperti ini bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan berbuka para santri, tetapi juga mempererat hubungan antara masyarakat, relawan, dan para penerima manfaat.

Kehadiran relawan dan dukungan sahabat menjadi bentuk nyata solidaritas sosial yang sangat dibutuhkan, terutama di bulan Ramadhan yang identik dengan semangat berbagi.

Para relawan juga menyampaikan harapan agar kegiatan ini tidak berhenti pada satu momentum saja. Mereka berharap semangat berbagi ini dapat terus berlanjut, sehingga semakin banyak santri yatim dan dhuafa yang merasakan manfaat dari kebaikan yang disalurkan.

Sedekah yang Menghadirkan Keberkahan Ramadhan

Ramadhan selalu menjadi waktu yang tepat untuk menanamkan kebaikan. Sedekah buka puasa tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga menjadi ladang amal bagi siapa pun yang terlibat di dalamnya.

Melalui kegiatan seperti ini, setiap orang memiliki kesempatan untuk ikut menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang mungkin jarang merasakan perhatian. Sebab terkadang, satu hidangan berbuka bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan hati.

Klik disini untuk menghadirkan kebahagiaan serupa di wilayah lainnya. Di Masjid Fathul Khoir Cibiru, Ramadhan tahun ini kembali mengajarkan satu hal sederhana:, bahwa kebaikan yang dibagikan dengan tulus akan selalu menemukan jalannya untuk memberi makna bagi banyak orang.

Di sebuah desa kecil bernama Sukaratu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Banten, terdapat dua kisah yang berjalan berdampingan, namun memiliki nafas perjuangan yang sama. Mereka adalah Ibu Yamtini dan Pak Rusdi, dua warga yang bangun setiap hari dengan tujuan sederhana, agar dapur tetap mengepul, anak-anak bisa terus bersekolah, dan keluarga tetap bertahan.

Keduanya mengajarkan bahwa harapan bisa tumbuh bahkan dari usaha paling kecil, dan bahwa sekecil apapun bantuan, dapat mengubah hari mereka dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.

Ibu Yamtini: Menyulam Asa dari Tepung Ketan di Tengah Gelap Subuh

Di usia ke-50 tahun, Ibu Yamtini memulai kembali hidupnya setelah pemutusan hubungan kerja yang memaksanya meninggalkan pekerjaan sebagai seorang buruh pabrik. Namun alih-alih menyerah, ia memilih memulai sesuatu yang baru dengan membuat opak ketan. Keterampilan sederhana yang kini menjadi tumpuan hidup keluarganya.

Setiap hari, sebelum ayam berkokok, pukul 03.00 pagi, dapurnya telah menyala. Bersama sang suami yang juga bekerja sebagai buruh bangunan, mereka mengolah ketan menjadi adonan, kemudian menjemur dan memanggangnya. Aktivitas ini berlangsung hingga pukul 08.00 pagi, sebelum ia mulai berkeliling kampung menjajakan hasil tangannya.

Jika harga ketan sedang bersahabat, ia mampu membuat 5 hingga 10 liter adonan opak dalam sehari. Namun saat ini, ketika harga bahan baku tidak stabil, dapat mengolah 4 liter adonan saja sudah ia syukuri. Dari 4 liter tersebut, ia bisa menghasilkan sekitar 20 bungkus opak, dijual seharga Rp10.000-Rp15.000 per bungkus.

Namun yang paling berat bukanlah proses dalam membuat opak, melainkan menjualnya. Setiap hari, ia membawa 20-30 bungkus berkeliling kampung, kadang juga berdiri di depan minimarket. Namun tidak selalu laku.

“Sehari laku 5-10 bungkus pun sudah alhamdulillah,” ucapnya dengan senyum yang menyembunyikan letih.

Ibu Yamtini tidak memikirkan keuntungan besar. Ia hanya ingin bisa membeli beras, membayar listrik, dan memastikan dua anaknya yang masih sekolah di SMA dan SD tetap memiliki masa depan.

Ia berharap suatu hari ada yang bersedia memberikannya modal usaha, agar ia bisa membeli bahan baku lebih banyak, memperbaiki proses produksi, dan memiliki pasar yang lebih stabil.

Ketika tim Relawan Nusantara datang dan memborong dagangannya, matanya berkaca-kaca. Hari itu, ia pulang dengan kantong kosong dan hati yang penuh.

Pak Rusdi: Menjaga Mimpi Besar di Balik Dorayaki Sederhana

Tidak jauh dari rumah Ibu Yamtini, seorang pria bernama Pak Rusdi menyiapkan adonan dorayaki setiap pagi. Dengan peralatan sederhana, ia menggoreng, mengisi, dan membungkus satu per satu dorayaki yang akan ia jajakan.

Rutinitasnya panjang, melelahkan, namun ia jalani dengan ketekunan, sebagai seorang ayah yang ingin memberi yang terbaik bagi keluarganya.

Setiap hari, ia berpindah-pindah lokasi. Pagi hingga siang ia akan mangkal di Puskesmas Sukaratu. Siang hingga sore ia berjualan di area SMA Majasari, dan di malam hari, ia akan menepi di pinggir jalan raya Desa Sukaratu

Jika dagangannya laris, ia bisa membawa pulang Rp50.000–Rp150.000. Namun persaingan pedagang jajanan di lokasi-lokasi tersebut sangat ketat. Tidak jarang ia pulang dengan sebagian besar dorayakinya yang masih tersisa.

Meski harus berjualan dari pukul 07.00 pagi hingga malam, ia tetap tersenyum. Pak Rusdi tidak pernah meminta banyak. Ia hanya ingin bisa menabung agar suatu hari bisa memperbaiki rumahnya yang saat ini sudah tidak layak huni. Keinginannya sederhana, tetapi jalannya panjang.

Maka ketika tim Relawan Nusantara memborong dagangannya, ia merasakan beban yang selama ini ia pikul sedikit berkurang. Hari itu mungkin hanya hari biasa bagi kita, tetapi bagi Pak Rusdi, hari itu adalah nafas tambahan untuk bertahan.

Ketika Bantuan Bukan Hanya Soal Uang, Tapi Tentang Harapan

Kisah Ibu Yamtini dan Pak Rusdi adalah pengingat bahwa di balik deretan rumah dan jalan-jalan kecil, ada perjuangan yang tidak semua orang lihat. Ada seorang ibu yang bangun sebelum fajar demi memastikan anaknya bisa terus bersekolah, ada seorang ayah yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain demi beberapa lembar rupiah, dan ada keluarga-keluarga yang tidak meminta belas kasihan, namun hanya ingin kesempatan untuk bisa tetap bertahan.

Sahabat telah membawa sedikit senyum bagi mereka, melalui kebaikan yang sahabat titipkan kepada Relawan Nusantara. Klik disini untuk terus berbagi kebaikan bersama Relawan Nusantara. Karena perjuangan mereka belum selesai, dan bantuan sekecil apa pun dari sahabat, dapat menjadi titik terang dalam hari-hari yang gelap.