Dari Opak Ketan hingga Dorayaki: Dua Kisah Perjuangan di Sukaratu yang Mengajarkan Kita Arti Bertahan dan Berbagi

Nov 14, 2025 | Berita, Blog, Pangan

Ramadan selalu menghadirkan banyak cara untuk berbagi. Melalui program Glow Up Ramadan Little Fingers Edition, para relawan hadir membawa lebih dari sekadar kegiatan, ada kehangatan Ramadan yang dihadirkan untuk anak-anak yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya masing-masing. Anak-anak hebat yang di usia mereka seharusnya masih dipenuhi oleh permainan dan tawa tanpa beban, namun justru mereka harus belajar tentang ketahanan, kesabaran, dan harapan.

Di balik tubuh kecil mereka, tersimpan kekuatan yang sering kali membuat banyak orang dewasa belajar arti keteguhan.

Menghadirkan Ruang Bahagia di Tengah Proses Pengobatan

Hari itu, ruangan yang biasanya dipenuhi suasana tenang berubah menjadi lebih hidup. Tangan-tangan kecil mulai berkumpul, wajah-wajah mungil menatap penuh rasa penasaran. Para relawan memulai kegiatan dengan sesi mendongeng, menghadirkan cerita-cerita sederhana yang membawa imajinasi anak-anak melayang jauh dari ruang perawatan dan obat-obatan.

Tawa kecil mereka sesekali pecah di tengah cerita. Ada yang tersenyum malu-malu, ada yang ikut menebak jalan cerita, dan ada pula yang hanya duduk diam sambil mendengarkan dengan mata berbinar.

Momen-momen sederhana seperti ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus datang dari hal besar. Bagi anak-anak yang sedang menjalani pengobatan, satu jam yang dipenuhi cerita, tawa, dan perhatian bisa menjadi hadiah yang sangat berarti. Sejenak, mereka kembali menjadi anak-anak yang bebas tertawa.

Pohon Harapan: Tempat Mimpi-Mimpi Kecil Dititipkan

Salah satu kegiatan yang paling menyentuh dalam program ini adalah membuat Pohon Harapan. Para relawan menyiapkan kertas-kertas kecil yang kemudian dibagikan kepada anak-anak. Di atas kertas itu, mereka menuliskan doa dan harapan yang tersimpan di hati mereka.

Ada yang menulis ingin segera sembuh.
Ada yang berharap bisa kembali bermain dengan teman-temannya.
Ada pula yang hanya menuliskan satu kalimat sederhana, ingin pulang ke rumah dengan sehat.

Kertas-kertas harapan itu kemudian ditempelkan bersama pada sebuah pohon yang menjadi simbol bahwa setiap harapan, sekecil apa pun, layak untuk dijaga dan diperjuangkan.

Melihat pohon itu perlahan dipenuhi doa-doa kecil menghadirkan perasaan haru yang sulit dijelaskan. Di balik tulisan-tulisan sederhana tersebut, ada keberanian besar dari anak-anak yang tidak pernah menyerah pada keadaan.

Peluk Hangat Ramadan untuk Anak-Anak Hebat

Ramadan selalu identik dengan kebersamaan. Namun bagi anak-anak yang sedang menjalani proses pengobatan, banyak momen ramadan yang harus dilewati di tempat perawatan, jauh dari rutinitas yang biasa mereka nikmati.

Karena itu, kehadiran para relawan dalam program ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan sosial. Kehadiran mereka adalah bentuk peluk hangat ramadan yang menyampaikan satu pesan penting bahwa anak-anak ini tidak sedang berjuang sendirian.

Ada banyak orang yang peduli.
Ada banyak doa yang mengalir untuk mereka.

Melalui interaksi sederhana, permainan ringan, dan percakapan hangat, hubungan kecil mulai terbangun antara para volunteer dan anak-anak. Sebuah hubungan yang mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi meninggalkan kesan yang sangat dalam.

Bingkisan dan Vitamin sebagai Bentuk Dukungan Nyata

Sebagai bagian dari program Glow Up ramadan Little Fingers Edition, para relawan juga memberikan bingkisan dan vitamin khusus bagi anak-anak yang sedang menjalani pengobatan.

Bingkisan tersebut bukan hanya sekadar hadiah. Di dalamnya terdapat pesan dukungan dan harapan agar mereka tetap kuat menjalani proses penyembuhan. Vitamin yang diberikan menjadi bentuk perhatian terhadap kesehatan mereka, sekaligus simbol bahwa banyak orang yang mendoakan kesembuhan mereka.

Bagi anak-anak ini, menerima bingkisan kecil sering kali menghadirkan kebahagiaan yang begitu tulus. Senyum mereka saat membuka paket sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian sekecil apa pun bisa membawa dampak yang besar.

Kebaikan Kecil yang Membawa Dampak Besar

Program Glow Up ramadan: Little Fingers Edition menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar. Kadang-kadang, kebaikan hadir dalam bentuk waktu yang diluangkan untuk mendengarkan cerita anak-anak. Hadir dalam bentuk tawa yang dibagikan bersama. Hadir dalam bentuk perhatian sederhana yang membuat seseorang merasa dihargai.

Bagi anak-anak yang sedang berjuang melawan penyakit, kehadiran orang-orang yang peduli bisa menjadi sumber kekuatan baru. Mereka merasa dilihat, didengar, dan didukung dalam perjalanan yang tidak mudah.

Kegiatan ini juga menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa setiap bantuan, sekecil apa pun, memiliki arti yang sangat besar bagi mereka yang sedang membutuhkan.

Ramadan selalu menjadi waktu terbaik untuk memperluas kebaikan. Klik disini untuk mendukung program kebaikan ini, agar semakin banyak anak-anak yang dapat merasakan bahwa dunia masih penuh dengan orang-orang baik yang siap menguatkan mereka.

Karena terkadang, harapan bisa tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana, sebuah cerita, sebuah senyuman, atau selembar kertas kecil yang digantung di pohon harapan.

Di sebuah desa kecil bernama Sukaratu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Banten, terdapat dua kisah yang berjalan berdampingan, namun memiliki nafas perjuangan yang sama. Mereka adalah Ibu Yamtini dan Pak Rusdi, dua warga yang bangun setiap hari dengan tujuan sederhana, agar dapur tetap mengepul, anak-anak bisa terus bersekolah, dan keluarga tetap bertahan.

Keduanya mengajarkan bahwa harapan bisa tumbuh bahkan dari usaha paling kecil, dan bahwa sekecil apapun bantuan, dapat mengubah hari mereka dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan.

Ibu Yamtini: Menyulam Asa dari Tepung Ketan di Tengah Gelap Subuh

Di usia ke-50 tahun, Ibu Yamtini memulai kembali hidupnya setelah pemutusan hubungan kerja yang memaksanya meninggalkan pekerjaan sebagai seorang buruh pabrik. Namun alih-alih menyerah, ia memilih memulai sesuatu yang baru dengan membuat opak ketan. Keterampilan sederhana yang kini menjadi tumpuan hidup keluarganya.

Setiap hari, sebelum ayam berkokok, pukul 03.00 pagi, dapurnya telah menyala. Bersama sang suami yang juga bekerja sebagai buruh bangunan, mereka mengolah ketan menjadi adonan, kemudian menjemur dan memanggangnya. Aktivitas ini berlangsung hingga pukul 08.00 pagi, sebelum ia mulai berkeliling kampung menjajakan hasil tangannya.

Jika harga ketan sedang bersahabat, ia mampu membuat 5 hingga 10 liter adonan opak dalam sehari. Namun saat ini, ketika harga bahan baku tidak stabil, dapat mengolah 4 liter adonan saja sudah ia syukuri. Dari 4 liter tersebut, ia bisa menghasilkan sekitar 20 bungkus opak, dijual seharga Rp10.000-Rp15.000 per bungkus.

Namun yang paling berat bukanlah proses dalam membuat opak, melainkan menjualnya. Setiap hari, ia membawa 20-30 bungkus berkeliling kampung, kadang juga berdiri di depan minimarket. Namun tidak selalu laku.

“Sehari laku 5-10 bungkus pun sudah alhamdulillah,” ucapnya dengan senyum yang menyembunyikan letih.

Ibu Yamtini tidak memikirkan keuntungan besar. Ia hanya ingin bisa membeli beras, membayar listrik, dan memastikan dua anaknya yang masih sekolah di SMA dan SD tetap memiliki masa depan.

Ia berharap suatu hari ada yang bersedia memberikannya modal usaha, agar ia bisa membeli bahan baku lebih banyak, memperbaiki proses produksi, dan memiliki pasar yang lebih stabil.

Ketika tim Relawan Nusantara datang dan memborong dagangannya, matanya berkaca-kaca. Hari itu, ia pulang dengan kantong kosong dan hati yang penuh.

Pak Rusdi: Menjaga Mimpi Besar di Balik Dorayaki Sederhana

Tidak jauh dari rumah Ibu Yamtini, seorang pria bernama Pak Rusdi menyiapkan adonan dorayaki setiap pagi. Dengan peralatan sederhana, ia menggoreng, mengisi, dan membungkus satu per satu dorayaki yang akan ia jajakan.

Rutinitasnya panjang, melelahkan, namun ia jalani dengan ketekunan, sebagai seorang ayah yang ingin memberi yang terbaik bagi keluarganya.

Setiap hari, ia berpindah-pindah lokasi. Pagi hingga siang ia akan mangkal di Puskesmas Sukaratu. Siang hingga sore ia berjualan di area SMA Majasari, dan di malam hari, ia akan menepi di pinggir jalan raya Desa Sukaratu

Jika dagangannya laris, ia bisa membawa pulang Rp50.000–Rp150.000. Namun persaingan pedagang jajanan di lokasi-lokasi tersebut sangat ketat. Tidak jarang ia pulang dengan sebagian besar dorayakinya yang masih tersisa.

Meski harus berjualan dari pukul 07.00 pagi hingga malam, ia tetap tersenyum. Pak Rusdi tidak pernah meminta banyak. Ia hanya ingin bisa menabung agar suatu hari bisa memperbaiki rumahnya yang saat ini sudah tidak layak huni. Keinginannya sederhana, tetapi jalannya panjang.

Maka ketika tim Relawan Nusantara memborong dagangannya, ia merasakan beban yang selama ini ia pikul sedikit berkurang. Hari itu mungkin hanya hari biasa bagi kita, tetapi bagi Pak Rusdi, hari itu adalah nafas tambahan untuk bertahan.

Ketika Bantuan Bukan Hanya Soal Uang, Tapi Tentang Harapan

Kisah Ibu Yamtini dan Pak Rusdi adalah pengingat bahwa di balik deretan rumah dan jalan-jalan kecil, ada perjuangan yang tidak semua orang lihat. Ada seorang ibu yang bangun sebelum fajar demi memastikan anaknya bisa terus bersekolah, ada seorang ayah yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain demi beberapa lembar rupiah, dan ada keluarga-keluarga yang tidak meminta belas kasihan, namun hanya ingin kesempatan untuk bisa tetap bertahan.

Sahabat telah membawa sedikit senyum bagi mereka, melalui kebaikan yang sahabat titipkan kepada Relawan Nusantara. Klik disini untuk terus berbagi kebaikan bersama Relawan Nusantara. Karena perjuangan mereka belum selesai, dan bantuan sekecil apa pun dari sahabat, dapat menjadi titik terang dalam hari-hari yang gelap.