Di antara puing-puing bangunan dan jalanan yang tak lagi utuh di Sheikh Ajleen, harapan kembali dihidangkan dalam bentuk yang sederhana namun bermakna, makanan berbuka puasa. Di wilayah Gaza Utara, sebanyak 1.500 paket iftar jama’i berhasil didistribusikan kepada warga yang menjalani Ramadan dalam kondisi serba terbatas.
Sejak pagi hari, angin berdebu menyapu tanah lapang yang dikelilingi reruntuhan. Tidak ada aula megah atau bangunan kokoh untuk menampung ribuan orang. Hanya hamparan tanah terbuka yang hari itu berubah menjadi ruang kebersamaan. Di sanalah tim relawan memulai proses panjang yang penuh ketelitian dan tanggung jawab.
Program ini terlaksana atas dukungan dan kolaborasi sahabat bersama Relawan Nusantara, yang terus berupaya untuk menghadirkan bantuan kemanusiaan Palestina secara nyata dan tepat sasaran.
Proses Distribusi Iftar di Gaza: Lebih dari Sekadar Membagi Makanan

Distribusi 1.500 iftar jama’i bukan perkara sederhana. Sebelum matahari tergelincir, relawan telah membagi peran dengan terstruktur. Setiap kotak makanan diperiksa dengan teliti. Bukan hanya memastikan jumlahnya cukup, tetapi memastikan kualitasnya layak, hangat, dan aman di konsumsi. Dalam situasi krisis, ketelitian adalah bentuk penghormatan terhadap martabat penerima.
Anak-anak berlari kecil di antara reruntuhan, menyambut relawan dengan rasa ingin tahu dan senyum yang tulus. Sebagian membantu mengangkat kardus kecil, seolah ingin menjadi bagian dari proses berbagi itu. Tawa mereka terdengar pelan, namun cukup untuk memecah sunyi yang biasanya menyelimuti kawasan tersebut.
1.500 Jiwa, Satu Doa yang Serentak

Ketika adzan Maghrib berkumandang di Gaza Utara, suasana berubah hening. Di tengah bangunan yang hancur, 1.500 orang duduk berdampingan. Tidak ada kemewahan, tetapi ada kebersamaan. Tidak ada gedung megah, tetapi ada doa yang terangkat hampir bersamaan.
Kurma pertama disantap perlahan. Air diminum dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan. Di momen itu, iftar jama’i menjadi simbol bahwa di tengah krisis kemanusiaan Palestina, masih ada tangan-tangan yang peduli.
Distribusi dilakukan dengan tertib dan adil. Relawan memastikan tidak ada yang terlewat. Setiap orang menerima porsinya masing-masing. Senyum hangat para warga, terutama para pejuang Palestina yang terus bertahan dalam kondisi sulit, menjadi pengingat bahwa bantuan sekecil apa pun memiliki arti besar.
Dampak Nyata Donasi Iftar untuk Palestina

Sebanyak 1.500 paket iftar berarti 1.500 individu yang dapat berbuka dengan layak hari itu. Artinya, 1.500 rasa lapar yang terobati. 1.500 keluarga yang merasakan perhatian dari saudara-saudara mereka di negeri yang jauh.
Di tengah keterbatasan akses pangan dan distribusi yang tidak stabil, program iftar jama’i di Gaza Utara menjadi solusi langsung dan berdampak. Bantuan ini tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menguatkan mental dan spiritual warga yang bertahan di tengah ketidakpastian.
Donasi untuk Palestina melalui program berbuka puasa seperti ini membuktikan bahwa kontribusi dari Indonesia benar-benar sampai dan dirasakan. Harapan tidak datang tiba-tiba. Ia diantar, disusun, dihitung, dijaga, dan dibagikan satu porsi demi satu porsi.
Saatnya Terus Menghadirkan Harapan untuk Gaza

Krisis di Gaza belum berakhir. Masih banyak keluarga yang membutuhkan dukungan pangan, air bersih, dan bantuan kemanusiaan lainnya. Setiap donasi yang sahabat titipkan memiliki potensi menjadi makanan berbuka, menjadi senyum anak-anak, dan menjadi doa yang terangkat menjelang Maghrib.
Klik disini untuk terus dukung perjuangan saudara-saudara kita di Palestina bersama Relawan Nusantara. Karena di antara debu dan reruntuhan, harapan tetap bisa tumbuh, asal kita memilih untuk terus mengantarkannya.

