Hidupkan Asta Cita, Satukan Daya Kesetaraan: IFG dan RN Dorong Inklusi Sosial di Garut Lewat “Kindness to Progress Vol. 5 – Inclusivity Batch”

Oct 13, 2025 | Berita, Blog, Kemitraan

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Garut, 10 Oktober 2025 – Di tengah hijaunya perbukitan Tarogong Kidul, semangat kesetaraan tumbuh dengan lembut di Desa Kersamenak. Selama tiga hari, 8-10 Oktober 2025, Indonesia Financial Group (IFG) bersama Relawan Nusantara menghadirkan kembali program sosial berkelanjutan bertajuk “Kindness to Progress Volume 5 – Inclusivity Batch” dengan tema “Hidupkan Asta Cita: Satukan Daya Kesetaraan.”

Bukan hanya menjadi kegiatan sosial, program ini juga menjadi ruang belajar bersama tentang bagaimana kebaikan bisa menjelma menjadi gerak nyata untuk membangun masyarakat yang inklusif dan berdaya.

Langkah yang Menguatkan

Program ini merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) IFG, yang kali ini berfokus pada tiga bidang utama: kesehatan masyarakat, pendidikan inklusif, dan pemberdayaan kader posyandu.

Melalui kolaborasi antara IFG, Jamkrindo, Askrindo, dan Relawan Nusantara, semangat gotong royong kembali dihidupkan melalui kesederhanaan dan ketulusan.

Sebanyak 10 karyawan IFG berpartisipasi sebagai Kindness Rangers dan berbaur dengan lebih dari 200 penerima manfaat yang merupakan anak-anak disabilitas, guru SLB, kader posyandu, dan warga Desa Kersamenak.

Selama tiga hari, desa tersebut menjadi ruang inklusi mini yang penuh tawa, diskusi, dan kehangatan.

Ketika Kesetaraan Bukan Sekadar Kata

Kegiatan yang dijalankan pun tidak berhenti di teori. Ada Workshop Awareness Disability untuk meningkatkan pemahaman tentang kesetaraan, permainan edukatif bagi anak-anak disabilitas, penyuluhan PHBS dan literasi keuangan bagi kader posyandu, serta edukasi anti-bullying bagi siswa SDN 1 Kersamenak.

Semua kegiatan ini dirancang dengan pendekatan fun learning, agar nilai-nilai besar seperti empati dan keberagaman bisa tumbuh alami dalam hati setiap peserta.

“Program Kindness to Progress adalah refleksi semangat gotong royong IFG dalam menumbuhkan empati sosial, kesetaraan, dan kemandirian masyarakat melalui pendekatan kolaboratif, Kami ingin memastikan bahwa program TJSL tidak hanya berdampak sesaat, tetapi juga membangun fondasi keberlanjutan.”
Ujar Adrian Wishnu Paranngi, Kepala Departemen TJSL IFG.

Lebih dari sekadar aksi sosial, Kindness to Progress menjadi ruang dialog kemanusiaan, tempat semua pihak bisa saling belajar. Mulai dari anak-anak disabilitas tentang keteguhan, dari para kader posyandu tentang kepedulian, dan dari relawan tentang makna berbagi tanpa pamrih.

Menguatkan yang Ada, Menyemai yang Baru

Dalam semangat keberlanjutan, IFG bersama Jamkrindo dan Askrindo juga memberikan bantuan strategis yang berdampak langsung pada masyarakat desa. Di antaranya:

  • Program PMT Pencegahan Stunting bagi 32 balita dan 14 posyandu.
  • Pelatihan literasi digital serta bantuan 8 unit laptop dan printer untuk memperkuat kapasitas kader posyandu
  • Revitalisasi sarana Unit Layanan Disabilitas (ULD) agar anak-anak disabilitas di Kersamenak memiliki ruang belajar yang lebih layak dan ramah.

Bantuan ini tidak berhenti sebagai simbol, tetapi dirancang untuk menjadi fondasi perubahan yang berkelanjutan, mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 (Kesehatan yang Baik), poin 4 (Pendidikan Berkualitas), dan poin 10 (Berkurangnya Kesenjangan).

Asta Cita: Delapan Cahaya Kebaikan

Tema “Hidupkan Asta Cita: Satukan Daya Kesetaraan” bukan hanya sebuah slogan. “Asta Cita” merupakan representasi dari delapan cita luhur IFG dalam menebarkan kebaikan. Yakni empati, kesetaraan, keberanian, kolaborasi, tanggung jawab, kepedulian, semangat, dan keberlanjutan.

“Melalui Kindness to Progress, kami ingin menghadirkan ruang inklusif di mana semua pihak, termasuk teman-teman disabilitas, bisa berperan aktif dan menjadi bagian dari perubahan sosial yang nyata.”
Ujar Kannya Fitrie, Kepala Departemen Budaya Perusahaan IFG.

Nilai-nilai ini menjadi benih yang menumbuhkan harmoni di Desa Kersamenak. Menyatukan langkah antara lembaga, relawan, dan masyarakat dalam satu cita, yakni membangun dunia yang lebih adil bagi semua.

Ketika Kebaikan Menjadi Gerak

Acara penutupan program dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Camat Tarogong Kidul Ahmad Mawardi, Kepala Desa Kersamenak Rival Saeful Syamsiar, hingga perwakilan dari Jamkrindo dan Askrindo.
Namun, yang paling berkesan bukanlah formalitas acara, melainkan suasana yang tercipta. Tangan-tangan kecil anak-anak disabilitas menggenggam erat tangan relawan, simbol bahwa kesetaraan sejati berawal dari penerimaan.

“Kindness to Progress” kini bukan hanya nama program. Ia adalah gerakan, sebuah perjalanan batin yang mengingatkan kita bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, bisa menjadi cahaya bagi yang lain.

Di akhir kegiatan, Desa Kersamenak seolah memantulkan semangat baru, tentang bagaimana inklusi sosial bukan lagi konsep ideal, tetapi praktik hidup yang bisa dirajut dari kasih dan kolaborasi. Karena pada akhirnya, kesetaraan bukan berarti semua sama, melainkan semua bisa saling menghargai dan dihargai dalam setiap perbedaan.