Kisah Pak Rifai: Sosok Guru Inspiratif yang Menjadi Matahari di Tengah Awan Keterbatasan

Nov 12, 2025 | Berita, Blog, Palestina

Ramadhan selalu menghadirkan cerita tentang kepedulian dan kehangatan antarsesama. Di tengah berbagai keterbatasan yang dirasakan sebagian masyarakat, hadirnya tangan-tangan yang mau berbagi menjadi cahaya yang menguatkan harapan. Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan Sedekah Buka Puasa untuk Santri Yatim dan Dhuafa yang dilaksanakan di Pondok Yatim Dhuafa Khairun Amaliyah, kawasan Sukaluyu, Bandung, pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Kegiatan ini menjadi momen sederhana namun penuh makna, ketika kepedulian dari para donatur dan relawan diwujudkan dalam bentuk hidangan berbuka bagi anak-anak yang menjalani hari-hari mereka dengan kesederhanaan.

Menghadirkan Kehangatan Ramadhan untuk Santri Yatim dan Dhuafa

Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di pondok terasa lebih hidup dari biasanya. Anak-anak mulai berkumpul dengan wajah ceria sementara para relawan menyiapkan paket makanan yang akan segera dibagikan.

Kegiatan sedekah buka puasa ini merupakan hasil kolaborasi antara Relawan Nusantara dan Institut Jermal, yang bersama-sama menginisiasi penyaluran bantuan untuk para santri yatim dan dhuafa di Pondok Khairun Amaliyah. Melalui kegiatan ini, sebanyak 100 paket buka puasa siap saji berhasil didistribusikan kepada para santri serta pengurus pondok.

Meski terlihat sederhana, paket makanan tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar. Bagi anak-anak di pondok, hidangan berbuka bukan sekadar makanan untuk mengakhiri puasa, tetapi juga simbol perhatian bahwa mereka tidak sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang peduli dan ingin berbagi kebahagiaan Ramadhan bersama mereka.

Doa Bersama untuk Para Donatur dan Relawan

Sebelum azan Maghrib berkumandang, rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama. Anak-anak, pengurus pondok, dan para relawan berkumpul dalam satu majelis kecil yang penuh khidmat. Dalam doa tersebut, mereka memohon keberkahan bagi semua pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini.

Nama-nama para donatur mungkin tidak selalu disebutkan satu per satu, namun doa tulus dari anak-anak yatim dan dhuafa menjadi hadiah yang tak ternilai. Di momen itulah terasa bahwa sedekah bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang membangun ikatan kemanusiaan yang hangat.

Setelah doa bersama, dilaksanakan pula serah terima simbolis bantuan kepada pengurus Pondok Yatim Dhuafa Khairun Amaliyah sebagai bentuk tanggung jawab dan transparansi dalam penyaluran amanah para donatur.

100 Paket Iftar Tersalurkan Tepat Waktu

Seluruh paket buka puasa berhasil didistribusikan sebelum azan Maghrib berkumandang. Para santri dapat berbuka dengan makanan yang layak, hangat, dan penuh rasa syukur.

Bagi sebagian orang, makanan berbuka mungkin merupakan hal yang biasa. Namun bagi anak-anak yang hidup dalam keterbatasan, perhatian seperti ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Senyum mereka saat menerima paket makanan menjadi pengingat bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa membawa kebahagiaan besar bagi orang lain.

Momen berbuka puasa pun berlangsung hangat. Anak-anak menikmati hidangan bersama, sementara relawan menyaksikan secara langsung bagaimana sedekah dari para donatur berubah menjadi kebahagiaan nyata.

Dampak Nyata dari Sedekah Ramadhan

Kegiatan sedekah buka puasa ini bukan hanya sekadar kegiatan berbagi makanan. Lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan dampak sosial yang nyata.

Bagi para santri, bantuan tersebut memberikan rasa diperhatikan dan dihargai. Kehadiran relawan yang datang langsung ke pondok juga memberikan energi positif bagi mereka, bahwa masih banyak orang yang peduli dengan masa depan mereka.

Sementara bagi para donatur, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa sedekah memiliki kekuatan untuk menyentuh kehidupan orang lain secara langsung. Setiap paket makanan yang diberikan tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan hati.

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, sedekah menjadi jembatan yang menghubungkan kebaikan dari satu hati ke hati lainnya.

Ramadhan: Momentum Terbaik untuk Berbagi

Ramadhan selalu menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak amal kebaikan. Banyak orang berlomba-lomba untuk berbagi karena mereka percaya bahwa setiap sedekah yang diberikan akan kembali dengan keberkahan yang berlipat.

Kegiatan di Pondok Yatim Dhuafa Khairun Amaliyah menjadi salah satu bukti bahwa kepedulian kecil yang dilakukan bersama-sama dapat menghasilkan dampak yang besar. Seratus paket buka puasa mungkin terlihat sederhana, namun bagi anak-anak yang menerimanya, itu adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

Harapannya, kegiatan seperti ini tidak berhenti di satu kesempatan saja. Semakin banyak orang yang tergerak untuk berbagi, semakin banyak pula anak-anak yang dapat merasakan kebahagiaan Ramadhan.

Menebar Kebaikan yang Terus Mengalir

Sedekah adalah amal yang tidak pernah sia-sia. Kebaikan yang diberikan hari ini dapat menjadi ladang pahala yang terus mengalir, bahkan ketika kita tidak lagi melihat langsung dampaknya.

Kegiatan sedekah buka puasa di Pondok Yatim Dhuafa Khairun Amaliyah ini menjadi salah satu langkah kecil untuk menebar kebaikan yang lebih luas. Melalui kolaborasi antara relawan, donatur, dan masyarakat, kebahagiaan Ramadhan dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.

Klik disini untuk ikut berbagi kebahagiaan di bulan Ramadan. Semoga setiap bantuan yang telah disalurkan menjadi amal jariyah bagi seluruh pihak yang terlibat, serta menjadi inspirasi bagi lebih banyak orang untuk terus berbagi dan menghadirkan harapan bagi sesama.

Sudah sejak awal, Pak Rifai tahu betul, bahwa jalan yang ia tempuh bukanlah jalan mudah. Ia sadar, dengan penghasilan Rp50.000 per bulan, gajinya takkan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, demi kecintaannya pada dunia pendidikan, ia tetap melangkah. Langkah sederhana yang setiap hentaknya membawa arti, untuk memastikan anak-anak di desanya tetap bisa belajar dan tetap memiliki harapan.

Sosok seperti Pak Rifai tak hanya ada di satu tempat. Ia memang mengajar di sebuah Sekolah Dasar di pelosok Lombok Timur, tepatnya di SDN 1 Nyiur Tebel, Desa Dasan Lekong, Kecamatan Sukamulia, namun sejatinya, kisahnya hidup di banyak wajah lain di pelosok Indonesia. Di lereng-lereng pegunungan, hingga di pulau-pulau kecil, selalu ada guru yang berangkat pagi-pagi dengan hati yang teguh, sebab mereka percaya, pendidikan adalah cahaya yang harus terus menyala untuk generasi selanjutnya.

Dua Puluh Tahun Mengajar dengan Ketulusan

Sejak tahun 2006, hampir dua puluh tahun lamanya, Pak Rifai berdiri di depan kelas. Menjadi matahari pagi bagi murid-muridnya, meski hidupnya sendiri kerap diselimuti awan keterbatasan. Setiap hari, ia berjalan kaki menempuh jarak empat hingga lima kilometer menuju sekolah.  Di tengah panas dan hujan, langkahnya menjadi saksi dari keyakinan bahwa ilmu adalah cahaya, dan seorang guru adalah lentera yang menyalakannya, sekecil apa pun sinarnya.

Dengan Motor Tua dan Semangat yang Tak Pernah Sirna

Kini, setelah bertahun-tahun mengajar, akhirnya ia bisa membeli motor tua dari sedikit demi sedikit tabungannya. Motor itu sudah menempuh ribuan kilometer, mengantarnya setiap hari dari rumah menuju sekolah. Namun, seiring usia yang bertambah, mesin motor itu sering mogok di tengah jalan. Dan setiap kali kendaraan tuanya menyerah, Pak Rifai tak pernah ikut berhenti. Ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh empat sampai lima kilometer. Karena baginya, pendidikan anak-anak tetap menjadi prioritasnya yang utama.

Gaji Pas-Pasan, Semangat yang Tak Pernah Berkurang

Kini gaji Pak Rifai sudah meningkat menjadi Rp400.000 per bulan. Angka yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, selepas mengajar, Pak Rifai beralih peran mengerjakan berbagai pekerjaan serabutan. Terkadang menjadi buruh tani, membantu tetangga yang membutuhkan tenaga, atau mengerjakan pekerjaan serabutan apa pun yang bisa menghasilkan rezeki halal.

Di samping rumahnya, ia memelihara 10 ekor ayam. Setiap sore, selepas mengajar, ia memberi makan ayam-ayam itu dengan sabar, merawatnya dengan sabar, sama seperti ia merawat harapan di dalam hatinya.

“Meskipun gaji saya pas-pasan, saya tetap semangat mengajar. Karena kalau saya tidak berangkat, anak-anak bagaimana? Siapa yang akan mengajar? Guru di sekolah kami juga pas-pasan,” ucapnya kepada tim Relawan Nusantara.

Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana, tapi di baliknya ada jiwa yang besar, jiwa seorang guru yang menaruh kepentingan murid di atas kenyamanannya sendiri.

Harapan yang Sesederhana Hatinya

Ketika ditanya tentang harapannya, Pak Rifai tak meminta banyak. Ia hanya ingin memperbaiki motornya agar tidak lagi sering mogok, supaya perjalanannya mengajar ke sekolah tidak terhambat dan bisa lebih lancar. Ia juga berharap ada sedikit bantuan modal usaha untuk menambah penghasilan di sela-sela waktu mengajar.

Tak ada keinginan untuk kaya, tak ada keinginan penghargaan. Yang ia harapkan hanyalah kecukupan tenaga dan kesempatan agar bisa terus menyalakan cahaya bagi anak-anak yang masih ingin belajar.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Nyata

Pak Rifai adalah cermin nyata dari istilah “pahlawan tanpa tanda jasa.”

Ia tidak dikenal banyak orang, tapi cahaya pengabdiannya menerangi masa depan puluhan murid setiap tahun. Dalam dirinya, tersimpan pelajaran tentang ketulusan, ketangguhan, dan kesabaran yang tak terukur nilainya.

Hidupnya adalah kurikulum keikhlasan, di mana setiap keringat, langkah, dan senyum yang tulus adalah bab yang mengajarkan arti perjuangan sebenarnya.

Mari Bersama Hadirkan Bingkisan Cinta untuk Mereka

Di luar sana, masih banyak guru seperti Pak Rifai. Mereka terus berjuang dalam sunyi, mengajar dengan cinta meski hidup mereka sendiri penuh keterbatasan. Kini saatnya kita hadir untuk mereka. Klik di sini untuk ikut memberikan “Bingkisan Cinta untuk 1.000 Guru.”

Mari bersama memberikan tanda kasih, menghadirkan senyum dan semangat baru bagi para guru di pelosok negeri. Karena setiap uluran tanganmu adalah cahaya baru bagi mereka yang selama ini tak pernah berhenti menyalakan terang bagi anak bangsa.