Mimpi 30 Tunanetra Menatap Baitullah. Apakah Ka’bah Hanya Untuk Mereka yang Mampu Melihat, atau Untuk Semua Hati yang Mampu Merasakan?

Nov 11, 2025 | Berita, Blog, kemanusiaan

Alhamdulillah, langkah nyata kembali diikhtiarkan. Pada 12 April, delegasi Indonesia yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) resmi memulai perjalanan kemanusiaan menuju Gaza. Dari Pelabuhan Moll de la Fusta, Barcelona, mereka berlayar bersama rombongan Global Sumud Flotilla (GSF), membawa satu pesan yang sama: kemanusiaan tidak boleh dibungkam oleh blokade.

Di tengah dunia yang kerap sibuk dengan kepentingannya sendiri, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik melintasi lautan. Ini adalah simbol keberanian, kepedulian, dan harapan, bahwa masih ada hati yang tergerak untuk berdiri bersama Palestina.

Perjalanan Laut: Menembus Batas Demi Kemanusiaan

Perjalanan yang dimulai dari Barcelona ini bukan tanpa risiko. Laut yang luas hanyalah satu tantangan kecil dibandingkan dengan realitas politik dan blokade yang selama ini membatasi akses bantuan ke Gaza. Namun, semangat para delegasi tidak surut.

Mereka membawa lebih dari sekadar bantuan. Mereka membawa suara jutaan orang yang selama ini hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Setiap mil yang ditempuh adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakpedulian global.

Jalur Darat: Ikhtiar Tanpa Henti dari Libya

Sementara itu, perjuangan tidak berhenti di laut. Delegasi Indonesia lainnya dijadwalkan melanjutkan misi melalui jalur darat (Land Convoy) yang akan dimulai pada 24 April dari Libya.

Perjalanan darat ini memiliki tantangan yang berbeda, mulai dari kondisi geopolitik hingga akses yang terbatas. Namun justru di situlah makna pengabdian menjadi nyata. Ketika jalan terasa sulit, di situlah komitmen diuji.

Mereka tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga pesan bahwa Gaza tidak sendiri. Ada dunia yang masih peduli, masih berjuang, dan masih berharap.

Jalur Diplomasi: Menggema di Panggung Internasional

Di sisi lain, upaya kemanusiaan ini juga diperkuat melalui jalur diplomasi. Pada 22 April mendatang, misi political impact akan dilaksanakan di Brussel, Belgia.

Langkah ini menjadi penting karena perubahan besar sering kali lahir dari tekanan global yang konsisten. Ketika suara kemanusiaan menggema di pusat-pusat kebijakan dunia, harapannya adalah lahir keputusan-keputusan yang lebih berpihak pada keadilan.

Ini bukan hanya tentang bantuan hari ini, tetapi tentang masa depan Gaza yang lebih manusiawi.

Satu Tujuan: Menembus Blokade, Menghidupkan Harapan

Meski dilakukan melalui jalur laut, darat, dan diplomasi, semua langkah ini bermuara pada satu tujuan yang sama, yaitu menembus blokade Gaza dan menyuarakan kemanusiaan untuk Palestina.

Blokade bukan hanya membatasi pergerakan barang, tetapi juga membatasi harapan. Dan di situlah misi ini menjadi sangat penting, mengembalikan harapan yang selama ini terkurung.

Ketika bantuan berhasil sampai, itu bukan sekadar logistik. Itu adalah pesan bahwa mereka dilihat, didengar, dan tidak dilupakan.

Mengapa Dukungan Kita Sangat Berarti

Misi ini bukan akhir, melainkan bagian dari perjuangan panjang. Delegasi yang berangkat adalah perpanjangan tangan dari kita semua. Mereka melangkah karena ada dukungan, doa, dan kontribusi dari banyak hati.

Namun kebutuhan di Gaza tidak berhenti hari ini. Setiap hari ada keluarga yang membutuhkan makanan, anak-anak yang membutuhkan perlindungan, dan masyarakat yang membutuhkan harapan.

Di sinilah peran kita menjadi penting. Dukungan, sekecil apa pun, memiliki dampak yang nyata. Karena bagi mereka, bantuan itu bukan angka, itu adalah kehidupan.

Saatnya Kita Ambil Bagian

Kita mungkin tidak berada di atas kapal yang berlayar dari Barcelona, atau di konvoi darat dari Libya, atau di forum internasional di Brussel. Namun kita tetap bisa menjadi bagian dari perjuangan ini.

Dengan doa, kita menguatkan langkah mereka. Dengan kepedulian, kita memperpanjang dampak misi ini. Dan dengan kontribusi nyata, kita membantu menghadirkan perubahan yang mereka perjuangkan. Klik disini untuk ikut memberikan dukungan. Sebab Gaza membutuhkan lebih dari sekadar perhatian. Gaza membutuhkan aksi. Dan hari ini, kita punya kesempatan untuk menjadi bagian dari harapan itu.

“Tentunya kami nanti di depan ka’bah ingin sujud syukur. Saya disabilitas netra. Kalau saya gini, minta ke Allah, Ya Allah berikan saya kemampuan untuk berangkat ke Baitullah-Mu. Saya tuh ingin sholat di Masjidil Haram, di Masjid Nabawi. Saya pengen mencium ka’bah. Dan nanti saya di akhirat ingin bisa melihat. Biar di dunia saya tidak bisa melihat, asal nanti di akhirat saya bisa melihat,”  ujar Bu Susi, salah satu penyandang Tunanetra.

Bayangkan, orang-orang yang tak pernah melihat cahaya matahari, tapi hatinya terang oleh cahaya iman. Mereka, para tunanetra, yang setiap hari menapaki dunia tanpa warna, tanpa bentuk, namun penuh keyakinan. Kini, ada mimpi besar yang sedang mereka perjuangkan, yakni menyentuh Baitullah dengan tangan mereka sendiri, mencium Hajar Aswad, merasakan setiap langkah thawaf mengelilingi Ka’bah dengan air mata haru, bukan karena mereka bisa melihat, tapi karena mereka mampu merasakan.

Sebuah Mimpi yang Tak Sederhana

Di balik segala keterbatasan fisik itu, ada keyakinan yang luas, bahwa Allah memandang bukan pada mata yang melihat, tapi pada hati yang tunduk. Meski dalam melaksanakannya memerlukan pendamping di setiap langkah, penjelasan di setiap posisi, dan bimbingan di setiap doa.

Bayangkan, 30 tunanetra dari berbagai daerah di Indonesia, dengan segala keterbatasan namun penuh semangat, menabung harapan agar bisa berangkat ke Tanah Suci. Bagi mereka, menatap Ka’bah mungkin bukan hanya dengan mata, tetapi dengan hati yang mampu merasa. Mereka ingin mendengar desiran talbiyah di Masjidil Haram, merasakan lembutnya pasir di padang Arafah, dan mengucap “Labbaik Allahumma Labbaik” dengan dada yang penuh getar iman.

Karena Ibadah Tak Butuh Fisik Sempurna, Hanya Butuh Hati yang Ikhlas

Seorang di antara mereka pernah berkata lirih,

“Saya memang tak bisa melihat Ka’bah, tapi semoga Allah izinkan saya untuk merasakannya.”

Kalimat itu sederhana, namun menghentak. Kita yang diberi penglihatan, terkadang masih lalai ketika menatap keagunganNya. Sementara mereka, dalam gelap yang tak bertepi, justru menemukan cahaya. Dan, bukankah sejatinya, ibadah itu bukan soal apa yang terlihat mata, tapi bagaimana ketundukan hati dalam ikhlas dan berserah?

Kita Bisa Menjadi Cahaya Itu

Saat ini, kita tidak sedang menolong yang lemah. Kita sedang berbagi kekuatan. Kita sedang menjadi bagian dari keajaiban, di mana hati-hati yang tak bisa melihat dunia, justru akan menjadi saksi indahnya ka’bah dengan penglihatan iman.

Karena di hadapan Allah, yang penting bukan siapa yang bisa melihat Ka’bah, tapi siapa yang benar-benar bisa merasakan kehadiran-Nya. Klik disini untuk menjadi bagian dari langkah mereka menuju Tanah Suci. Karena Ka’bah bukan hanya untuk mereka yang bisa melihat, tetapi untuk semua hati yang mampu merasakan.