Setiap kali bulan Dzulhijjah tiba, suasana mulai terasa berbeda. Gema takbir perlahan terdengar dari masjid-masjid, jalanan dipenuhi pedagang hewan kurban, dan banyak keluarga mulai menyiapkan ibadah terbaik yang akan dipersembahkan kepada Allah SWT. Namun sesungguhnya, kurban bukan sekadar tentang menyembelih hewan. Ia adalah tentang cinta yang diuji melalui keikhlasan, tentang pengorbanan yang melahirkan kepedulian, dan tentang bagaimana kebahagiaan bisa hadir di meja makan orang-orang yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Di balik seekor kambing atau sapi yang dikurbankan, ada banyak kisah yang jarang terlihat. Ada anak-anak yang menunggu datangnya Idul Adha karena hanya di hari itu mereka bisa menikmati daging bersama keluarga. Ada ibu-ibu yang memasak dengan mata berkaca-kaca karena akhirnya bisa menyajikan hidangan terbaik untuk anak-anaknya. Bahkan di pelosok negeri, distribusi daging kurban sering menjadi bentuk perhatian yang sangat dinanti setiap tahunnya.
Karena itulah, memahami ibadah kurban tidak cukup hanya mengetahui tata cara penyembelihannya. Kurban adalah ibadah yang memiliki makna mendalam, adab yang harus dijaga, dan sunnah-sunnah yang dianjurkan sejak awal bulan Dzulhijjah.
Apa Itu Kurban dan Mengapa Sangat Dianjurkan dalam Islam?
Kurban atau udhiyah merupakan ibadah menyembelih hewan ternak tertentu pada Hari Raya Idul Adha dan hari tasyrik sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh ketundukan bersedia melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Namun karena ketaatan dan keikhlasan mereka, Allah menggantikannya dengan seekor hewan sembelihan.
Dari peristiwa itulah umat Islam belajar bahwa kurban bukan sekadar ritual tahunan. Kurban adalah simbol bahwa ada kalanya manusia harus belajar melepaskan ego, menundukkan keinginan duniawi, dan lebih mendahulukan ketaatan kepada Allah SWT.
Namun hari ini, makna kurban juga terasa sangat dekat dengan nilai kemanusiaan. Sebab setiap hewan yang dikurbankan akan menghadirkan kebahagiaan bagi banyak orang yang membutuhkan.
Kapan Mulai Tidak Boleh Potong Kuku dan Rambut bagi Orang yang Berkurban?
Salah satu pertanyaan yang paling sering dicari menjelang Idul Adha adalah tentang larangan memotong kuku dan rambut bagi orang yang hendak berkurban. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun hingga ia berkurban.”
Larangan ini dimulai sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih. Karena itu, banyak ulama menganjurkan untuk memotong kuku, kumis, atau rambut sebelum memasuki awal Dzulhijjah apabila seseorang sudah berniat untuk berkurban.
Meski demikian, mayoritas ulama menjelaskan bahwa hukum larangan ini bersifat sunnah, bukan haram mutlak. Artinya jika seseorang terlanjur memotong kuku atau rambut, kurbannya tetap sah, hanya saja ia kehilangan kesunnahan tersebut.
Di balik sunnah ini, tersimpan pelajaran tentang kesiapan hati dalam menyambut ibadah kurban. Bahwa bahkan sebelum hewan disembelih, seorang muslim sudah diajak untuk menjaga diri dan menghadirkan kesungguhan dalam beribadah.
Kapan Waktu Penyembelihan Hewan Kurban?
Penyembelihan hewan kurban dimulai setelah pelaksanaan salat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah dan berlanjut hingga akhir hari tasyrik, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang menyembelih sebelum salat Idul Adha, maka sembelihannya belum termasuk kurban, melainkan hanya dianggap sebagai sembelihan biasa.
Karena itu, waktu penyembelihan menjadi bagian penting dalam ibadah kurban agar pelaksanaannya benar-benar sesuai syariat.
Di berbagai daerah Indonesia, momen penyembelihan ini juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat. Banyak warga bergotong royong membantu proses penyembelihan hingga distribusi daging kepada penerima manfaat.
Syarat Hewan Kurban yang Sah
Islam mengajarkan bahwa hewan kurban harus berasal dari hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, atau unta dengan kondisi sehat dan cukup umur. Hewan tersebut tidak boleh cacat berat, kurus parah, pincang, atau sakit.
Seekor kambing biasanya diperuntukkan bagi satu orang, sedangkan sapi dapat diniatkan untuk tujuh orang. Namun lebih dari sekadar memenuhi syarat fisik, memilih hewan kurban terbaik juga menjadi bentuk kesungguhan dalam beribadah. Sebab apa yang diberikan kepada Allah sejatinya mencerminkan isi hati seseorang.
Niat dan Doa Saat Menyembelih Hewan Kurban
Dalam pelaksanaan kurban, niat menjadi bagian yang sangat penting. Sebab setiap amal tergantung pada niatnya. Doa yang dianjurkan saat menyembelih hewan kurban adalah:
اللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ
Allahumma hadza minka wa laka.
“Ya Allah, ini berasal dari-Mu dan untuk-Mu.”
Doa sederhana ini mengajarkan bahwa seluruh rezeki sejatinya berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya.
Kurban yang Menghadirkan Kebahagiaan
Di banyak tempat, daging kurban mungkin terasa biasa. Namun di daerah pelosok, kawasan padat penduduk, hingga keluarga dhuafa, kurban sering menjadi sesuatu yang sangat istimewa.
Ada anak-anak yang berlari kecil membawa kantong daging dengan wajah berbinar. Ada lansia yang berkali-kali mengucap syukur karena akhirnya bisa memasak hidangan bergizi untuk keluarganya. Bahkan ada wilayah yang hanya bisa menikmati daging setahun sekali ketika Idul Adha tiba.
Inilah mengapa kurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan. Kurban adalah tentang menghadirkan rasa peduli. Tentang bagaimana satu ibadah mampu menyentuh begitu banyak kehidupan sekaligus.
Dan sering kali, yang paling membekas bukanlah besar kecilnya hewan yang diberikan, melainkan rasa bahwa masih ada yang peduli pada mereka.
Menjadikan Kurban Sebagai Jalan Kebaikan yang Lebih Luas
Hari raya akan berlalu. Takbir akan perlahan berhenti berkumandang. Namun manfaat dari seekor hewan kurban bisa tinggal jauh lebih lama di hati mereka yang menerima. Kurban mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari apa yang kita simpan, melainkan dari apa yang kita bagi kepada sesama.
Maka ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, jangan biarkan Idul Adha berlalu begitu saja. Karena bisa jadi, hewan kurban yang kita titipkan hari ini menjadi alasan sebuah keluarga tersenyum setelah sekian lama hidup dalam keterbatasan.
Dan di setiap senyum yang hadir dari penerima manfaat, semoga ada keberkahan yang kembali mengalir kepada setiap hati yang memilih untuk berbagi.

