Refleksi Global Sumud Flotilla dari Perang Mu’tah: Saat Mundur Menjadi Strategi Kekuatan

Sep 15, 2025 | Artikel, Blog, Palestina

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Menoleh Sejarah

Pada tahun 629 M, Nabi Muhammad ﷺ mengutus sahabatnya membawa surat dakwah kepada gubernur Romawi di wilayah Yordania. Namun surat itu tak pernah sampai kepada penerimanya, karena ternyata, sang utusan malah dibunuh. Nabi pun mengutus 3.000 pasukan, jumlah yang begitu kecil dibandingkan puluhan hingga ratusan ribu pasukan Romawi.

Tiga panglima terbaik ditunjuk secara berurutan. Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Namun sebelum berangkat, sudah ada suara-suara miring yang mengiringi. Terlalu berisiko, terlalu sedikit jumlah pasukan, bahkan seorang rabi Yahudi memperingatkan kebiasaan perang Bani Israil yang keras di selatan Yordania.

Di medan Perang Mu’tah, tiga panglima Muslim benar-benar gugur satu per satu dengan penuh keberanian. Komando pun berpindah kepada Khalid bin al-Walid radhiyallahu ‘anhu.  Melihat situasi yang timpang, Khalid pun mengubah formasi, memainkan taktik, dan secara terhormat memundurkan pasukan.  Strategi ini dibuat untuk mencegah korban tambahan sekaligus menghancurkan moral musuh.  Pada akhirnya, pasukan Romawi  pun tidak mengejar dan peperangan berhenti.

Namun saat kembali ke Madinah, yang terjadi mungkin lebih menyakitkan daripada perang itu sendiri. Saat para pejuang pulang, sebagian masyarakat Madinah menyambut dengan cemoohan. Para pejuang dianggap lari dari perang. Padahal mereka yang mencemooh pun tidak merasakan bagaimana dahsyatnya Perang Mu’tah. Nabi ﷺ menegaskan, mereka bukan pasukan yang lari, melainkan “insya Allah akan kembali.”  Dan sejarah membuktikan, delapan tahun kemudian, di bawah kepemimpinan Khalid bin al-Walid, pasukan muslim benar-benar kembali untuk mengalahkan Romawi dan membawa kemenangan di Perang Yarmuk.

Mundur Adalah Strategi Perjuangan

Kisah Perang Mu’tah ini mengajarkan, bahwa mundur bukan kalah. Itu adalah tanda kematangan strategi, keteguhan, dan keberanian berpikir panjang.

Kisah ini memberi kita cermin, bahwa dalam perjuangan, tidak semua langkah harus maju. Ada kalanya kita perlu menahan diri, berbelok, bahkan mundur. Bukan karena takut, tetapi karena ingin menjaga nyawa, menjaga kekuatan, menjaga masa depan perjuangan itu sendiri.

Keputusan seperti ini tidaklah mudah. Ia membutuhkan keberanian moral, ketenangan hati, dan pandangan yang jauh ke depan. Dan sering kali, orang yang belum pernah berada di posisi itu tidak akan mengerti betapa beratnya memilih jalan ini.

Cermin dari Laut Tengah

Spirit yang sama terasa di Laut Mediterania saat ini. Hari ini, kita menyaksikan kisah yang hampir mirip. Para relawan Indonesia yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla berangkat dengan semangat solidaritas untuk Palestina. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, pekerjaan, dan kenyamanan, membawa misi kemanusiaan ke tempat yang penuh risiko.

Namun, selama berminggu-minggu, perjalanan mereka dipenuhi ujian. Kapal yang rusak,  bahkan beberapa kapal tertahan di negara lain. Logistik yang menipis, dan ancaman-ancaman yang semakin nyata. Hingga akhirnya, setelah bermusyawarah panjang, para pejuang Indonesia memutuskan untuk menyerahkan kapal Indonesia untuk menembus blokade Gaza kepada armada sahabat dari Eropa yang lebih siap secara jarak dan waktu. Secara geografis, posisi mereka lebih dekat dan memiliki kapasitas untuk menunggu lebih lama. Keputusan ini bukan tanda gentar, tetapi sebagai salah satu strategi untuk menjaga kekuatan agar perjuangan bisa tetap berlanjut.

Namun, seperti pasukan Mu’tah, para pejuang Indonesia pun tidak sedikit menghadapi cibiran. Ada yang mengatakan “Indonesia mundur,” “takut,” “gagal.” Padahal, di balik keputusan itu, kami percaya, ada pertimbangan matang, sama seperti strategi Khalid bin al-Walid di Perang Mu’tah.

Renungan Untuk Kita

Sejarah Mu’tah dan pengalaman Global Sumud Flotilla sama-sama menunjukkan bahwa perjuangan besar tidak selalu lurus maju. Ia berliku, penuh tikungan, kadang harus berhenti. Ada masa ketika kita harus menyusun ulang barisan, ada masa ketika kita harus berputar arah demi tujuan yang lebih besar. Maka di situlah kesabaran, kedewasaan strategi, dan keteguhan niat kita di uji. Jeda yang memberi ruang kesempatan untuk menyusun ulang barisan, menata ulang strategi, menguatkan hati, dan meluruskan niat..

Maka kita pun perlu lebih bijak melihat relawan-relawan hari ini. Mereka bukan mundur untuk menyerah, mereka sedang menjaga api perjuangan agar tetap hidup. Fokus kita tetap pada tujuan utama, membela kemanusiaan, membebaskan blokade Gaza, dan tetap peduli kepada jutaan warga Palestina yang masih bertahan di bawah tekanan sekarang.

Menutup dengan Doa dan Dukungan

Perjalanan kemanusiaan memang panjang.  Tapi dari Perang Mu’tah kita belajar, bahwa mundur pun bisa menjadi bagian dari kemenangan yang lebih besar.  

Semoga kita semua diberi kelapangan hati untuk tetap mendukung mereka, mendoakan mereka, dan melihat lebih dalam pada niat tulus di balik setiap langkah. Karena pada akhirnya, perjuangan sejati bukan hanya tentang maju. tetapi juga tentang mengetahui kapan harus berhenti sejenak, menyusun ulang strategi, lalu bangkit dan melangkah kembali dengan lebih kuat.

Klik di sini untuk ikut melayarkan dukungan. Inilah saatnya untuk meluaskan manfaat dan solidaritas. Karena sekecil apa pun kepedulian dari kita, adalah kekuatan yang mendorong kapal ini bisa sampai ke Gaza.