Relawan Nusantara Distribusikan Quran Braille untuk Komunitas Tunanetra di Sumedang

Oct 17, 2024 | Blog, Pendidikan, Sosial

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Relawan Nusantara sejumlah menyalurkan bantuan Al Quran braille untuk para tunanetra yang berada di Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Sebanyak 4 set Al Quran braille Arab beserta terjemahannya disalurkan kepada PERTUNI (Persatuan Tunanetra Indonesia) cabang Sumedang sebagai sarana untuk belajar mengaji bersama karena sebelumnya untuk kegiatan tersebut menjadi terhambat dikarenakan tidak adanya sarana yang dapat digunakan untuk memperkenalkan cara membaca Al Quran.

Penyerahan Quran Braille berlangsung di salah satu rumah milik ketua dewan pengurus cabang Pertuni Kabupaten Sumedang yakni Bapak Dede Tresnawan. 

Kedatangan tim relawan nusantara disambut hangat oleh Bapak Dede dan Ibu Asti (sepasang suami istri yang tuna netra) serta beberapa anggota pertuni yang juga telah hadir disana, beliau menyampaikan jika pertuni Sumedang sudah tercatat memiliki 65 orang anggota yang tersebar di area seluruh area Sumedang dengan latar belakang dan usia yang berbeda beda. Ada yang merupakan seorang guru di SLB, memiliki panti pijat, memiliki kelompok music, dan lain sebagainya. 

Pak Dede selain berprofesi sebagai guru di SLB juga sebagai guru ngaji unruk para penyandang tunanetra untuk anggota yang ada di kawasan rumahnya.

Dengan adanya program kebaikan untuk para tunanetra, semoga bisa menjangkau lebih luas lagi dan memberi kesempatan kepada para tunanetra untuk terus belajar mengaji. Pak Yadi mengucapkan rasa terimakasih kepada para donatur yang telah berkenan menyisihkan sebagian hartanya untuk mendorong terlaksananya program quran braille.

“Semoga Allah balas dengan rezeki yang berlimpah”, sambungnya. Adapun pak Dede juga menyampaikan ucapan haru dan terimakasih kepada Relawan Nusantara beserta para donatur yang telah memberikan serta mendistribusikan Al quran braille kepada Pertuni. Beliau juga menambahkan, “tentunya hal ini sangat membantu agar para tunanetra tidak menjadi orang yang buta huruf Al Quran braille, mudah mudahan dapat bermanfaat bagi anggota kami di Kabupaten Sumedang