Relawan Nusantara Salurkan Bantuan Door to Door untuk Korban Galodo Palembayan

Dec 12, 2025 | Bencana, Berita, Blog

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Palembayan (10/12/25) – Di tengah sunyinya kampung yang masih menyimpan sisa-sisa galodoh, Relawan Nusantara kembali melangkah membawa harapan. Menuju ke rumah-rumah warga, mengetuk pintu satu per satu, memastikan bahwa tidak ada satu pun penyintas Galodo Palembayan yang luput dari perhatian. 

Para relawan mengantarkan puluhan paket sembako dan puluhan hygiene kit langsung ke keluarga penyintas. Setiap paket itu bukan hanya bantuan logistik, tetapi juga bentuk rasa perhatian. Rasa yang menghantarkan pesan bahwa mereka tidak ditinggalkan di tengah duka ini.

Menguatkan Mereka yang Berduka, Menyentuh Pintu yang Paling Sunyi

Salah satu rumah yang relawan datangi adalah rumah milik Abah Asmar, warga Kayu Baro, Jorong Gumarang 2, Nagari Tiga Koto Silungkang. Langkah kaki para relawan sejenak terhenti ketika menyaksikan duka yang menyelimuti rumah kecil itu. Abah Asmar kini menjalani hari-hari tanpa sosok yang selama puluhan tahun menemaninya, istrinya, Ibu Kasmawati, yang berpulang akibat terjangan galodo.

Menurut cerita warga, almarhumah tengah berada di area persawahan Kampuang Subarang Air ketika banjir bandang datang tanpa ampun. Arus deras menyeret apa saja yang ada di hadapannya, termasuk langkah seorang ibu yang tidak pernah membayangkan hari itu menjadi detik terakhir hidupnya. Tubuhnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, menyisakan ruang kosong yang tak mungkin tergantikan dalam keluarga kecilnya.

Ketika bantuan diberikan, Abah Asmar hanya bisa menatap lantai beberapa detik lebih lama sebelum mengucapkan terima kasih pelan. Di momen seperti itulah para relawan menyadari bahwa tanggung jawab mereka bukan hanya mengantar paket bantuan, tetapi juga menjadi pendengar dan penguat bagi mereka yang sedang kehilangan dunia yang dulu mereka tapaki.

Klik disini untuk ikut hadir memberi dukungan untuk Sumatera. Bersama, kita bisa memastikan bahwa mereka tidak berjuang sendiri. #WargaBantuWarga