Saleh Al-Jaafarawi: Yang Gugur Hanya Raga, Suaranya Masih Menyala

Oct 23, 2025 | Berita, Blog, Palestina

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Di tanah yang setiap pagi disambut dentuman, dan di malam hari yang diselimuti sunyi tanpa listrik, nama Saleh Al-Jaafarawi menjadi cahaya kecil yang menyala di antara puing-puing Gaza. Ia bukan hanya seorang jurnalis. Ia adalah saksi hidup yang menolak bungkam, yang menjadikan kamera dan kata-kata sebagai senjatanya melawan penghapusan eksistensi bangsanya.

Namun pada Ahad, 12 Oktober 2025, suara itu terhenti. Saleh, 27 tahun, ditembak mati saat meliput bentrokan bersenjata di lingkungan Sabra, Kota Gaza. Tubuhnya ditemukan dalam bak truk, masih mengenakan rompi bertuliskan PRESS. Sebuah simbol profesi yang seharusnya dilindungi, bahkan di tengah perang yang paling kejam sekalipun.

“Saya hidup dari detik ke detik, tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.”

Beberapa bulan sebelum kematiannya, dalam sebuah wawancara, Saleh pernah berkata demikian. Kalimat sederhana yang kini terasa seperti wasiat, pengakuan seorang jurnalis muda yang tau betul, bahwa setiap langkahnya di tanah Gaza merupakan tarikan nafas di antara maut.

Sejak 2019, Saleh dikenal karena keberaniannya mendokumentasikan kondisi di Gaza. Reruntuhan rumah yang hancur, sekolah yang rata, masjid yang menjadi abu, dan anak-anak yang masih menggenggam mainan di antara puing. Ia merekam luka bangsanya dengan cinta. Ia tau, jika bukan dia yang bercerita, mungkin dunia akan tetap menutup mata.

Ancaman sudah menjadi bahasa sehari-harinya. Israel menandai namanya dalam daftar jurnalis yang “harus dibungkam”, namun Saleh tetap memilih bertahan. “Kalau saya pergi, Siapa yang akan menunjukkan kepada dunia bahwa kami masih hidup?” kata Saleh yang pernah menulis di salah satu unggahannya.

Syahid di Tanah yang Tak Pernah Diam

Ketika peluru menembus tubuhnya, Saleh sedang melakukan apa yang selalu ia lakukan, merekam kebenaran. Ia bukan pejuang bersenjata, bukan bagian dari militer. Senjatanya adalah kamera, mikrofon, dan tekad yang lebih kuat dari baja. Namun di Gaza, bahkan kebenaran bisa menjadi sebuah alasan untuk seseorang menjadi target untuk dibunuh.

Pemerintah Gaza menyebut kematiannya sebagai bagian dari operasi sistematis Israel untuk membungkam jurnalis Palestina, baik melalui serangan langsung maupun melalui kelompok proksi bersenjata. Saleh menjadi jurnalis ke-271 yang syahid sejak perang dimulai pada Oktober 2023.

Lebih dari Sekadar Nama di Daftar Panjang

Syahidnya Saleh bukan sekadar angka dalam statistik. Ia adalah potongan jiwa dari sebuah bangsa yang terus berjuang. Di setiap jurnalis yang gugur, ada ribuan cerita yang tak sempat diceritakan, ada wajah-wajah yang tak sempat direkam, ada doa yang menggantung di antara reruntuhan.

Saleh adalah simbol dari generasi muda Palestina yang memilih untuk hidup dengan arti, meski tau bahwa mungkin tak akan hidup lama. Ia percaya pada kekuatan media dan kebenaran, bahwa dunia mungkin diam, tapi sejarah tak akan pernah lupa siapa yang berani bersuara.

“Semoga Allah merahmati pahlawan Saleh Al-Jaafarawi.”

Begitu tulis sahabatnya, jurnalis Gaza Mohamed Shahen, di platform X.
“Setiap hari di Gaza adalah kehilangan baru, perpisahan baru. Meskipun genosida katanya sudah berhenti, pengkhianatan dan darah belum benar-benar berakhir.”

Gaza berduka. Dunia kembali menyaksikan bagaimana profesi yang seharusnya melindungi kebenaran justru menjadi sasaran kematian.

Warisan dari Seorang Jurnalis

Saleh telah tiada. Tapi kisahnya akan terus hidup di setiap rekaman video yang sempat ia unggah, di setiap foto yang membekukan waktu, dan di setiap hati yang masih percaya bahwa jurnalisme adalah bentuk lain dari keberanian.

Ia mungkin tak lagi memegang kameranya, tapi dunia kini memegang kenangannya. Dan selama masih ada yang mengingat, Saleh Al-Jaafarawi belum benar-benar mati.

“Syahid bukanlah akhir bagi mereka yang menulis dengan nurani. Itu hanyalah bab baru, di mana kebenaran terus berbicara, bahkan setelah suara mereka terdiam.”