Saleh Al-Jaafarawi: Yang Gugur Hanya Raga, Suaranya Masih Menyala

Oct 23, 2025 | Berita, Blog, Palestina

Ramadan selalu menghadirkan banyak cara untuk berbagi. Melalui program Glow Up Ramadan Little Fingers Edition, para relawan hadir membawa lebih dari sekadar kegiatan, ada kehangatan Ramadan yang dihadirkan untuk anak-anak yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya masing-masing. Anak-anak hebat yang di usia mereka seharusnya masih dipenuhi oleh permainan dan tawa tanpa beban, namun justru mereka harus belajar tentang ketahanan, kesabaran, dan harapan.

Di balik tubuh kecil mereka, tersimpan kekuatan yang sering kali membuat banyak orang dewasa belajar arti keteguhan.

Menghadirkan Ruang Bahagia di Tengah Proses Pengobatan

Hari itu, ruangan yang biasanya dipenuhi suasana tenang berubah menjadi lebih hidup. Tangan-tangan kecil mulai berkumpul, wajah-wajah mungil menatap penuh rasa penasaran. Para relawan memulai kegiatan dengan sesi mendongeng, menghadirkan cerita-cerita sederhana yang membawa imajinasi anak-anak melayang jauh dari ruang perawatan dan obat-obatan.

Tawa kecil mereka sesekali pecah di tengah cerita. Ada yang tersenyum malu-malu, ada yang ikut menebak jalan cerita, dan ada pula yang hanya duduk diam sambil mendengarkan dengan mata berbinar.

Momen-momen sederhana seperti ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus datang dari hal besar. Bagi anak-anak yang sedang menjalani pengobatan, satu jam yang dipenuhi cerita, tawa, dan perhatian bisa menjadi hadiah yang sangat berarti. Sejenak, mereka kembali menjadi anak-anak yang bebas tertawa.

Pohon Harapan: Tempat Mimpi-Mimpi Kecil Dititipkan

Salah satu kegiatan yang paling menyentuh dalam program ini adalah membuat Pohon Harapan. Para relawan menyiapkan kertas-kertas kecil yang kemudian dibagikan kepada anak-anak. Di atas kertas itu, mereka menuliskan doa dan harapan yang tersimpan di hati mereka.

Ada yang menulis ingin segera sembuh.
Ada yang berharap bisa kembali bermain dengan teman-temannya.
Ada pula yang hanya menuliskan satu kalimat sederhana, ingin pulang ke rumah dengan sehat.

Kertas-kertas harapan itu kemudian ditempelkan bersama pada sebuah pohon yang menjadi simbol bahwa setiap harapan, sekecil apa pun, layak untuk dijaga dan diperjuangkan.

Melihat pohon itu perlahan dipenuhi doa-doa kecil menghadirkan perasaan haru yang sulit dijelaskan. Di balik tulisan-tulisan sederhana tersebut, ada keberanian besar dari anak-anak yang tidak pernah menyerah pada keadaan.

Peluk Hangat Ramadan untuk Anak-Anak Hebat

Ramadan selalu identik dengan kebersamaan. Namun bagi anak-anak yang sedang menjalani proses pengobatan, banyak momen ramadan yang harus dilewati di tempat perawatan, jauh dari rutinitas yang biasa mereka nikmati.

Karena itu, kehadiran para relawan dalam program ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan sosial. Kehadiran mereka adalah bentuk peluk hangat ramadan yang menyampaikan satu pesan penting bahwa anak-anak ini tidak sedang berjuang sendirian.

Ada banyak orang yang peduli.
Ada banyak doa yang mengalir untuk mereka.

Melalui interaksi sederhana, permainan ringan, dan percakapan hangat, hubungan kecil mulai terbangun antara para volunteer dan anak-anak. Sebuah hubungan yang mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi meninggalkan kesan yang sangat dalam.

Bingkisan dan Vitamin sebagai Bentuk Dukungan Nyata

Sebagai bagian dari program Glow Up ramadan Little Fingers Edition, para relawan juga memberikan bingkisan dan vitamin khusus bagi anak-anak yang sedang menjalani pengobatan.

Bingkisan tersebut bukan hanya sekadar hadiah. Di dalamnya terdapat pesan dukungan dan harapan agar mereka tetap kuat menjalani proses penyembuhan. Vitamin yang diberikan menjadi bentuk perhatian terhadap kesehatan mereka, sekaligus simbol bahwa banyak orang yang mendoakan kesembuhan mereka.

Bagi anak-anak ini, menerima bingkisan kecil sering kali menghadirkan kebahagiaan yang begitu tulus. Senyum mereka saat membuka paket sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian sekecil apa pun bisa membawa dampak yang besar.

Kebaikan Kecil yang Membawa Dampak Besar

Program Glow Up ramadan: Little Fingers Edition menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar. Kadang-kadang, kebaikan hadir dalam bentuk waktu yang diluangkan untuk mendengarkan cerita anak-anak. Hadir dalam bentuk tawa yang dibagikan bersama. Hadir dalam bentuk perhatian sederhana yang membuat seseorang merasa dihargai.

Bagi anak-anak yang sedang berjuang melawan penyakit, kehadiran orang-orang yang peduli bisa menjadi sumber kekuatan baru. Mereka merasa dilihat, didengar, dan didukung dalam perjalanan yang tidak mudah.

Kegiatan ini juga menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa setiap bantuan, sekecil apa pun, memiliki arti yang sangat besar bagi mereka yang sedang membutuhkan.

Ramadan selalu menjadi waktu terbaik untuk memperluas kebaikan. Klik disini untuk mendukung program kebaikan ini, agar semakin banyak anak-anak yang dapat merasakan bahwa dunia masih penuh dengan orang-orang baik yang siap menguatkan mereka.

Karena terkadang, harapan bisa tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana, sebuah cerita, sebuah senyuman, atau selembar kertas kecil yang digantung di pohon harapan.

Di tanah yang setiap pagi disambut dentuman, dan di malam hari yang diselimuti sunyi tanpa listrik, nama Saleh Al-Jaafarawi menjadi cahaya kecil yang menyala di antara puing-puing Gaza. Ia bukan hanya seorang jurnalis. Ia adalah saksi hidup yang menolak bungkam, yang menjadikan kamera dan kata-kata sebagai senjatanya melawan penghapusan eksistensi bangsanya.

Namun pada Ahad, 12 Oktober 2025, suara itu terhenti. Saleh, 27 tahun, ditembak mati saat meliput bentrokan bersenjata di lingkungan Sabra, Kota Gaza. Tubuhnya ditemukan dalam bak truk, masih mengenakan rompi bertuliskan PRESS. Sebuah simbol profesi yang seharusnya dilindungi, bahkan di tengah perang yang paling kejam sekalipun.

“Saya hidup dari detik ke detik, tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.”

Beberapa bulan sebelum kematiannya, dalam sebuah wawancara, Saleh pernah berkata demikian. Kalimat sederhana yang kini terasa seperti wasiat, pengakuan seorang jurnalis muda yang tau betul, bahwa setiap langkahnya di tanah Gaza merupakan tarikan nafas di antara maut.

Sejak 2019, Saleh dikenal karena keberaniannya mendokumentasikan kondisi di Gaza. Reruntuhan rumah yang hancur, sekolah yang rata, masjid yang menjadi abu, dan anak-anak yang masih menggenggam mainan di antara puing. Ia merekam luka bangsanya dengan cinta. Ia tau, jika bukan dia yang bercerita, mungkin dunia akan tetap menutup mata.

Ancaman sudah menjadi bahasa sehari-harinya. Israel menandai namanya dalam daftar jurnalis yang “harus dibungkam”, namun Saleh tetap memilih bertahan. “Kalau saya pergi, Siapa yang akan menunjukkan kepada dunia bahwa kami masih hidup?” kata Saleh yang pernah menulis di salah satu unggahannya.

Syahid di Tanah yang Tak Pernah Diam

Ketika peluru menembus tubuhnya, Saleh sedang melakukan apa yang selalu ia lakukan, merekam kebenaran. Ia bukan pejuang bersenjata, bukan bagian dari militer. Senjatanya adalah kamera, mikrofon, dan tekad yang lebih kuat dari baja. Namun di Gaza, bahkan kebenaran bisa menjadi sebuah alasan untuk seseorang menjadi target untuk dibunuh.

Pemerintah Gaza menyebut kematiannya sebagai bagian dari operasi sistematis Israel untuk membungkam jurnalis Palestina, baik melalui serangan langsung maupun melalui kelompok proksi bersenjata. Saleh menjadi jurnalis ke-271 yang syahid sejak perang dimulai pada Oktober 2023.

Lebih dari Sekadar Nama di Daftar Panjang

Syahidnya Saleh bukan sekadar angka dalam statistik. Ia adalah potongan jiwa dari sebuah bangsa yang terus berjuang. Di setiap jurnalis yang gugur, ada ribuan cerita yang tak sempat diceritakan, ada wajah-wajah yang tak sempat direkam, ada doa yang menggantung di antara reruntuhan.

Saleh adalah simbol dari generasi muda Palestina yang memilih untuk hidup dengan arti, meski tau bahwa mungkin tak akan hidup lama. Ia percaya pada kekuatan media dan kebenaran, bahwa dunia mungkin diam, tapi sejarah tak akan pernah lupa siapa yang berani bersuara.

“Semoga Allah merahmati pahlawan Saleh Al-Jaafarawi.”

Begitu tulis sahabatnya, jurnalis Gaza Mohamed Shahen, di platform X.
“Setiap hari di Gaza adalah kehilangan baru, perpisahan baru. Meskipun genosida katanya sudah berhenti, pengkhianatan dan darah belum benar-benar berakhir.”

Gaza berduka. Dunia kembali menyaksikan bagaimana profesi yang seharusnya melindungi kebenaran justru menjadi sasaran kematian.

Warisan dari Seorang Jurnalis

Saleh telah tiada. Tapi kisahnya akan terus hidup di setiap rekaman video yang sempat ia unggah, di setiap foto yang membekukan waktu, dan di setiap hati yang masih percaya bahwa jurnalisme adalah bentuk lain dari keberanian.

Ia mungkin tak lagi memegang kameranya, tapi dunia kini memegang kenangannya. Dan selama masih ada yang mengingat, Saleh Al-Jaafarawi belum benar-benar mati.

“Syahid bukanlah akhir bagi mereka yang menulis dengan nurani. Itu hanyalah bab baru, di mana kebenaran terus berbicara, bahkan setelah suara mereka terdiam.”