Sudan, Rumah Para Penuntut Ilmu dari Berbagai Penjuru Dunia

Nov 17, 2025 | Artikel, Blog, kemanusiaan, Sudan

Ramadan selalu menghadirkan banyak cara untuk berbagi. Melalui program Glow Up Ramadan Little Fingers Edition, para relawan hadir membawa lebih dari sekadar kegiatan, ada kehangatan Ramadan yang dihadirkan untuk anak-anak yang saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya masing-masing. Anak-anak hebat yang di usia mereka seharusnya masih dipenuhi oleh permainan dan tawa tanpa beban, namun justru mereka harus belajar tentang ketahanan, kesabaran, dan harapan.

Di balik tubuh kecil mereka, tersimpan kekuatan yang sering kali membuat banyak orang dewasa belajar arti keteguhan.

Menghadirkan Ruang Bahagia di Tengah Proses Pengobatan

Hari itu, ruangan yang biasanya dipenuhi suasana tenang berubah menjadi lebih hidup. Tangan-tangan kecil mulai berkumpul, wajah-wajah mungil menatap penuh rasa penasaran. Para relawan memulai kegiatan dengan sesi mendongeng, menghadirkan cerita-cerita sederhana yang membawa imajinasi anak-anak melayang jauh dari ruang perawatan dan obat-obatan.

Tawa kecil mereka sesekali pecah di tengah cerita. Ada yang tersenyum malu-malu, ada yang ikut menebak jalan cerita, dan ada pula yang hanya duduk diam sambil mendengarkan dengan mata berbinar.

Momen-momen sederhana seperti ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu harus datang dari hal besar. Bagi anak-anak yang sedang menjalani pengobatan, satu jam yang dipenuhi cerita, tawa, dan perhatian bisa menjadi hadiah yang sangat berarti. Sejenak, mereka kembali menjadi anak-anak yang bebas tertawa.

Pohon Harapan: Tempat Mimpi-Mimpi Kecil Dititipkan

Salah satu kegiatan yang paling menyentuh dalam program ini adalah membuat Pohon Harapan. Para relawan menyiapkan kertas-kertas kecil yang kemudian dibagikan kepada anak-anak. Di atas kertas itu, mereka menuliskan doa dan harapan yang tersimpan di hati mereka.

Ada yang menulis ingin segera sembuh.
Ada yang berharap bisa kembali bermain dengan teman-temannya.
Ada pula yang hanya menuliskan satu kalimat sederhana, ingin pulang ke rumah dengan sehat.

Kertas-kertas harapan itu kemudian ditempelkan bersama pada sebuah pohon yang menjadi simbol bahwa setiap harapan, sekecil apa pun, layak untuk dijaga dan diperjuangkan.

Melihat pohon itu perlahan dipenuhi doa-doa kecil menghadirkan perasaan haru yang sulit dijelaskan. Di balik tulisan-tulisan sederhana tersebut, ada keberanian besar dari anak-anak yang tidak pernah menyerah pada keadaan.

Peluk Hangat Ramadan untuk Anak-Anak Hebat

Ramadan selalu identik dengan kebersamaan. Namun bagi anak-anak yang sedang menjalani proses pengobatan, banyak momen ramadan yang harus dilewati di tempat perawatan, jauh dari rutinitas yang biasa mereka nikmati.

Karena itu, kehadiran para relawan dalam program ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan sosial. Kehadiran mereka adalah bentuk peluk hangat ramadan yang menyampaikan satu pesan penting bahwa anak-anak ini tidak sedang berjuang sendirian.

Ada banyak orang yang peduli.
Ada banyak doa yang mengalir untuk mereka.

Melalui interaksi sederhana, permainan ringan, dan percakapan hangat, hubungan kecil mulai terbangun antara para volunteer dan anak-anak. Sebuah hubungan yang mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi meninggalkan kesan yang sangat dalam.

Bingkisan dan Vitamin sebagai Bentuk Dukungan Nyata

Sebagai bagian dari program Glow Up ramadan Little Fingers Edition, para relawan juga memberikan bingkisan dan vitamin khusus bagi anak-anak yang sedang menjalani pengobatan.

Bingkisan tersebut bukan hanya sekadar hadiah. Di dalamnya terdapat pesan dukungan dan harapan agar mereka tetap kuat menjalani proses penyembuhan. Vitamin yang diberikan menjadi bentuk perhatian terhadap kesehatan mereka, sekaligus simbol bahwa banyak orang yang mendoakan kesembuhan mereka.

Bagi anak-anak ini, menerima bingkisan kecil sering kali menghadirkan kebahagiaan yang begitu tulus. Senyum mereka saat membuka paket sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian sekecil apa pun bisa membawa dampak yang besar.

Kebaikan Kecil yang Membawa Dampak Besar

Program Glow Up ramadan: Little Fingers Edition menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar. Kadang-kadang, kebaikan hadir dalam bentuk waktu yang diluangkan untuk mendengarkan cerita anak-anak. Hadir dalam bentuk tawa yang dibagikan bersama. Hadir dalam bentuk perhatian sederhana yang membuat seseorang merasa dihargai.

Bagi anak-anak yang sedang berjuang melawan penyakit, kehadiran orang-orang yang peduli bisa menjadi sumber kekuatan baru. Mereka merasa dilihat, didengar, dan didukung dalam perjalanan yang tidak mudah.

Kegiatan ini juga menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa setiap bantuan, sekecil apa pun, memiliki arti yang sangat besar bagi mereka yang sedang membutuhkan.

Ramadan selalu menjadi waktu terbaik untuk memperluas kebaikan. Klik disini untuk mendukung program kebaikan ini, agar semakin banyak anak-anak yang dapat merasakan bahwa dunia masih penuh dengan orang-orang baik yang siap menguatkan mereka.

Karena terkadang, harapan bisa tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana, sebuah cerita, sebuah senyuman, atau selembar kertas kecil yang digantung di pohon harapan.

Negeri Dua Nil, Tempat Tujuan Para Penuntut Ilmu

Di sudut benua Afrika yang jarang tersorot kamera dunia, mengalir dua sungai yang sejak ribuan tahun lalu menjadi saksi lahirnya kebudayaan besar. Sungai Nil Biru dan Sungai Nil Putih. Dari pertemuan keduanya, berdirilah sebuah negeri bernama Sudan, sebuah tanah yang unik, karena ia bukan hanya milik Afrika atau Arab, tetapi keduanya sekaligus.

Sejak dulu, Sudan telah menjadi rumah bagi para pencari ilmu dari seluruh dunia. Negeri yang 97% penduduknya Muslim itu dikenal dengan wajah yang aman, hangat, dan penuh senyum. Mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, Turki, Somalia, Yaman, hingga Eropa berbondong-bondong datang ke Sudan dengan membawa satu tujuan, yakni untuk belajar dan mencari keberkahan.

Bagi Indonesia sendiri, Sudan bukanlah negeri asing. Menurut data resmi KBRI Khartoum pada bulan April 2023, tercatat 1.209 WNI tinggal di Sudan, dan sebagian besar dari mereka adalah pelajar dan mahasiswa. Anak-anak bangsa itu datang membawa harapan besar, menghafal Al-Qur’an, menuntut ilmu agama, memperdalam bahasa Arab fusha, dan menggenggam mimpi yang ingin dibawa pulang ke tanah air.

Negeri yang Menjaga Bahasa Al-Qur’an

Sudan adalah salah satu dari sedikit negeri yang mempertahankan bahasa Arab fusha alias bahasa Arab yang digunakan dalam Al-Qur’an, dalam percakapan sehari-hari.

Di kelas, di pasar, di kampus, bahkan di desa-desa terpencil, masyarakat Sudan tetap menggunakan bahasa Arab fusha ketika berbicara. Bagi ribuan mahasiswa internasional, ini merupakan salah satu karunia. Karena di negeri lain, bahasa Arab fusha biasanya hanya ditemukan di buku dan seminar-seminar. Sedangkan di Sudan, bahasa Arab fusha justru hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Namun sejak April 2023, negeri ilmu itu berubah. Para mahasiswa internasional dipulangkan. Universitas-universitas mulai terlihat kosong, masjid-masjid beralih menjadi tempat pengungsian, kota-kota ilmu berubah menjadi puing-puing. Ratusan ribu keluarga mengungsi, jutaan orang kekurangan makanan dan air bersih. Sudan kini sedang berjuang untuk bertahan hidup. Ratusan ribu keluarga menjadi pengungsi internal. Jutaan orang kekurangan makanan dan air bersih. Anak-anak kehilangan sekolah. Orang tua kehilangan pekerjaan.

Negeri yang Kini Menanti Uluran Saudara

Sudan bukan negeri asing bagi kita. Ia adalah negeri saudara. Tempat banyak anak bangsa kita menimba ilmu, membawa pulang sanad, membawa pulang pemahaman Al-Qur’an dan sunnah.

Di Sudan, nama “Indonesia” begitu disukai. Warga Sudan terkenal menghormati para pelajar dari negeri kita. Kita disapa dengan senyuman. Kita dibantu tanpa pamrih. Namun hari ini, tanah yang ramah itu seolah sedang memanggil kita. Mereka tidak menginginkan banyak, hanya sekedar kesempatan untuk hidup layak.

Ini bukan hanya tentang Sudan. Ini tentang kemanusiaan. Tentang menghormati negeri yang pernah menjaga bahasa Al-Qur’an untuk dunia. Tentang membantu keluarga kita sendiri di belahan bumi yang lain. Kita mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di Sudan. Tapi Sudan pernah menjadi bagian dari perjalanan ilmu umat ini. Dan hari ini, sebagian dari cahaya itu sedang meredup

Saat dunia menutup mata, kita bisa untuk membuka hati. Saat banyak yang memilih diam, kita bisa memilih untuk peduli. Karena sekecil apa pun kebaikan yang kita bagi, itu adalah tanda bahwa masih ada harapan untuk negeri dua sungai itu.

Klik disini untuk ikut membantu dan menjaga Sudan, negeri yang pernah menghidupkan ilmu. Karena mungkin, melalui tangan-tangan kita lah Sudan perlahan bangkit kembali menjadi negeri ilmu yang penuh cahaya.