Umroh dengan Indera yang Berbeda: Ketika Sedekahmu Menjadi Mata bagi Jamaah Tunanetra di Tanah Suci

Nov 18, 2025 | Berita, Blog, kemanusiaan

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Tidak semua perjalanan menuju Tanah Suci dimulai dengan mata yang melihat. Ada perjalanan yang dimulai dengan hati yang merasa, telinga yang mendengar, dan tangan yang meraba jalan. Bagi saudara-saudara kita yang tunanetra, umroh bukan sekedar ibadah, ia adalah perjalanan panjang menuju cahaya yang tidak mereka lihat secara fisik, namun mereka kejar dengan segenap jiwa.

Salah satu di antara mereka adalah Solehudin, seorang tunanetra bawaan yang lahir pada tahun 1982 di Majalengka. Suaranya tenang ketika bercerita, tetapi ada keteguhan yang tidak bisa disembunyikan.

“Saya seorang tunanetra bawaan. Dari kecil sudah begini, tapi dulu saya belum sadar punya kekurangan penglihatan. Saya tetap main petak umpet, tetap sekolah bareng anak-anak yang normal. Baru sadar kalau saya berbeda ketika teman-teman naik kelas dua dan saya tidak naik.”

Ia tersenyum ketika mengatakannya, seolah ingin menunjukkan bahwa kekurangan itu tidak pernah membuatnya berhenti. Ia tumbuh, bersekolah, dan akhirnya menjadi guru, profesi yang sejak kecil ia cita-citakan.

“Ini qadarullah. Allah takdirkan saya jadi pembimbing, jadi guru. Alhamdulillah bisa mengajar anak-anak. Saya lahir dari keluarga sederhana, orang tua bertani. Tapi Allah kasih jalan untuk tetap bermanfaat.”

Namun ketika berbicara tentang Tanah Suci, suaranya berubah. Ada getaran yang muncul dari kerinduan yang sangat dalam.

“Kalau bicara umroh, pasti semuanya… wabil khusus teman-teman yang senasib, pasti sangat menginginkan bisa pergi ke sana. Allah Maha Adil, Allah Maha Kaya. Kami terus berdoa agar bisa beribadah di sana. Walaupun bukan haji, umroh pun sudah jadi mimpi besar.”

Merasakan Tanah Suci dengan Cara yang Berbeda

Bagi Pak Solehudin dan banyak tunanetra lainnya, umroh adalah perjalanan yang sangat berbeda. Mereka tidak melihat Ka’bah, tetapi mereka mengenal Tanah Suci lewat suara dan udara.

Ketika melangkah memasuki Masjidil Haram, mereka mungkin tidak disambut pemandangan yang memukau, tetapi disambut oleh suara talbiyah dari ribuan jamaah yang bergema di langit Makkah. Suara itu bagi mereka adalah penanda bahwa mereka semakin dekat dengan Baitullah.

Aroma khas Masjidil Haram, wangi gaharu yang lembut dan suci, menjadi penegas lain bahwa mereka telah sampai di wilayah yang sangat dirindukan. Setiap hembusan angin membawa rasa tentram yang tidak dapat mereka lihat, tetapi mereka rasakan kuat-kuat.

Sentuhan menjadi bahasa paling jujur. Ketika tangan mereka kelak bisa menyentuh marmer yang dingin, atau meraba permukaan kiswah, dari sanalah mereka akan tau, bahwa inilah rumah Allah.

Namun perjalanan itu bukan tanpa kesulitan. Keramaian thawaf, ritme langkah sa’i, dan perpindahan antar lokasi harus dilakukan tanpa seorangpun tau kemana kaki akan melangkah. Setiap detik membutuhkan fokus penuh pada suara pendamping. Setiap meter membutuhkan keberanian.

Karena itu, keberangkatan sahabat tunanetra ke Tanah Suci memerlukan pendamping khusus, alat bantu mobilitas, perlindungan ekstra, dan fasilitas khusus. Di sinilah peran sedekah menjadi sangat besar. Kebaikan sahabat akan menjelma menjadi mata bagi mereka, menjadi tangan penuntun, menjadi arah, menjadi rasa aman dan kepastian.

“Labbaikallahumma labbaik… semoga saya bisa melafalkan talbiyah itu di depan Ka’bah, di Kota Suci Mekkah. Ya Allah, kabulkan doa-doaku. Amin.”, ujar Pak Solehudin.

Menuntun Langkah Menuju Cahaya

Harapan itu juga dirasakan oleh Bu Susi, seorang tunanetra lainnya, yang menyampaikan keinginannya dengan suara lirih namun penuh keyakinan,

“Saya ingin sujud syukur di depan Ka’bah. Saya ingin mencium Ka’bah. Saya ingin sholat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dan nanti… di akhirat… saya ingin bisa melihat. Biar di dunia tidak bisa melihat, asal nanti di akhirat Allah beri kemampuan untuk melihat.”

Mungkin di sinilah makna sedekah menjadi begitu berharga. Kita tidak hanya membantu seseorang menuju Tanah Suci, tapi kita ikut menjadi bagian dari doa-doa yang dilantunkan di hadapan Ka’bah. Kita menjadi penuntun langkah seseorang yang seluruh hidupnya berjalan dalam gelap, tetapi ingin tiba di cahaya.

Klik disini untuk ikut mendukung perjalanan sahabat tunanetra menuju cahaya. Karena siapa pun yang memudahkan perjalanan seorang hamba menuju Allah, Allah akan memudahkan jalan menuju kebaikan baginya.