Dari Lumpur ke Harapan: Cerita Relawan Nusantara Bersama Pertamina untuk Penyintas Banjir Denpasar

Oct 8, 2025 | Bencana, Berita, Blog

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Denpasar, 21 September 2025 – Hujan deras yang mengguyur Denpasar pada 10 September lalu meninggalkan luka dan lumpur di hampir setiap sudut kota. Sungai Tukad Badung yang meluap membuat rumah-rumah, toko, hingga tempat kerja warga terendam. Saat air surut, yang tersisa bukan hanya lumpur tebal, tapi juga kesedihan dan kebingungan tentang bagaimana melanjutkan kehidupan sehari-hari.

Tim dari Relawan Nusantara pun turun langsung, mendapat amanah dari PT Pertamina Kilang Minyak Internasional dan PT Pertamina Kilang Minyak Balikpapan untuk menyalurkan makanan siap saji bagi para penyintas banjir. Sebanyak ratusan porsi makanan dibagikan, bukan hanya untuk mengisi perut, tapi juga untuk menyampaikan pesan sederhana, bahwa saudara kita tidak pernah sendiri.

Langkah Kecil di Tengah Genangan

Pagi itu, enam orang Tim Relawan Nusantara berangkat membawa kotak-kotak makanan menuju tiga titik terdampak. Lokasi pertama di Jl. Pulau Biak, Banjar Tegal Gede, Denpasar Barat. Di sana, udara masih lembap, dan aroma lumpur bercampur dengan wangi sabun cuci. Kami melihat warga bahu membahu membersihkan rumah mereka. Seorang bapak paruh baya, yang kemudian kami tau adalah Kelian Adat Desa Pulau Biak, menyambut kami dengan senyum yang lelah namun begitu tulus, dan mengucapkan terimakasih.

Perjalanan berlanjut ke Jl. Kertapura, Pemecutan Klod. Beberapa anak kecil berlarian tanpa alas kaki, bermain air sisa genangan. Seorang ibu dengan tangan penuh cucian menatap dari jauh, lalu tersenyum saat tau tim Relawan Nusantara membawa makanan. Sekotak nasi hangat mungkin tampak sederhana, tapi di tengah situasi seperti ini, rasanya seperti pelukan hangat bagi mereka.

Cahaya Kecil dari Tangan yang Peduli

Titik terakhir yang didatangi adalah Jl. Taman Pancing Timur, Pemogan, Denpasar Selatan. Posko penanganan banjir masih aktif di bawah koordinasi Ibu Ocik, seorang perempuan tangguh yang tak berhenti memberi semangat pada warga. Ia menyalami tim Relawan Nusantara satu per satu.

Di sela-sela pembagian bantuan, tim Relawan Nusantara menyadari satu hal, bahwa  bencana mungkin memang merenggut banyak hal, tapi tidak bisa memadamkan rasa gotong royong. Warga saling bantu, saling hibur, dan saling jaga. Tim Relawan Nusantara hanya datang sebentar, tapi yang tersaksikan adalah keteguhan hati yang luar biasa.

Bersama Pertamina, Relawan Nusantara belajar bahwa membantu bukan hanya tentang memberi, tapi juga hadir, mendengar cerita mereka, menepuk bahu yang lelah, dan membawa sedikit harapan di tengah kesulitan.

Semoga bantuan kecil ini menjadi pengingat, bahwa di balik setiap bencana, selalu ada tangan-tangan yang tidak berhenti peduli untuk berjuang menumbuhkan kembali kehidupan.

Klik di sini untuk ikut mengulurkan tangan bersama Relawan Nusantara. Karena setiap bantuan kecil mampu meringankan beban besar saudara-saudara kita yang terdampak bencana.