Israel Menargetkan Jurnalis, 100 Jurnalis Palestina Gugur.

Dec 27, 2023 | Blog, News

Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan kehangatan, bahkan di tempat-tempat yang sering luput dari perhatian. Di sebuah sudut Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, kehangatan itu terasa begitu nyata dalam sebuah kebersamaan sederhana, buka puasa bersama yang penuh makna.

Pada 8 Maret 2026, Kelompok Difabel Ar Rizky yang terdiri dari warga disabilitas setempat berkumpul di rumah Ibu Muawanah, sosok yang selama ini menjadi penggerak dan ketua kelompok. Rumah sederhana di Dusun Pengkol sore itu tidak hanya menjadi tempat berbuka, tetapi juga ruang bertemunya kepedulian, harapan, dan rasa syukur.

Ramadhan yang Menghadirkan Rasa Diperhatikan

Bagi banyak orang, buka puasa mungkin adalah rutinitas biasa. Namun bagi sebagian lainnya, terutama mereka yang hidup dengan keterbatasan, momen ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Kehadiran Relawan Nusantara dalam kegiatan ini membawa lebih dari sekadar makanan.

Sebanyak 100 paket sedekah buka puasa disalurkan kepada anggota kelompok difabel dan keluarga yang hadir. Paket-paket sederhana itu menjadi simbol bahwa ada yang peduli, ada yang melihat, dan ada yang ingin berbagi.

Di tengah suasana yang hangat, senyum-senyum mulai merekah. Bukan karena apa yang disajikan semata, tetapi karena perasaan dihargai dan tidak dilupakan.

Lebih dari Sekadar Bantuan, Ini Tentang Harapan

Ibu Muawanah, selaku ketua kelompok, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian yang diberikan. Bagi beliau, bantuan ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga tentang memberikan semangat bagi para anggota untuk terus menjalani hari-hari mereka.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Azizah, salah satu orang tua dari anak difabel. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.

“Alhamdulillah, terima kasih Relawan Nusantara, yang telah berbagi sedekah buka puasa kepada kami, semoga menjadi berkah dan manfaat.”

Ucapan sederhana itu menggambarkan betapa besar arti sebuah kepedulian, terutama bagi mereka yang selama ini harus berjuang dalam keterbatasan.

Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana, namun mampu memberikan dampak yang begitu dalam.

Di bulan Ramadhan, ketika hati lebih mudah tergerak, kepedulian seperti ini menjadi jembatan yang menghubungkan banyak kehidupan. Dari tangan yang memberi, hingga mereka yang menerima, terjalin sebuah cerita yang mungkin tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.

Dan dari satu kegiatan kecil ini, kita diingatkan kembali bahwa masih banyak di luar sana yang membutuhkan uluran tangan.

Mari Terus Hadirkan Kebaikan

Apa yang terjadi di Semarang hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang ada. Masih banyak kelompok, keluarga, dan individu yang menunggu sentuhan kepedulian yang sama.

Klik disini untuk ikut berbagi, menghadirkan harapan, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang merasa sendiri dalam menjalani hari-harinya. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita hadirkan hari ini, bisa menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap bertahan esok hari.

Sejak perang Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat pecah pada 7 Oktober 2023, Pasukan Israel dilaporkan terus melancarkan serangan brutalnya, lebih dari 20 ribu korban jiwa dan 57 ribu korban luka-luka dilaporkan dan sedikitnya 100 jurnalis gugur saat menjalankan tugas mereka di wilayah tersebut.

Menurut laporan dari Al Jazeera, kantor media pemerintah di Gaza merilis data mengenai jumlah wartawan yang tewas di Jalur Gaza. Muhammed Abu Hweidy, seorang jurnalis Palestina, dilaporkan sebagai korban terakhir yang gugur dalam serangan udara Israel. Kejadian tersebut terjadi di rumahnya di bagian timur Kota Gaza pada Sabtu, 23 Desember 2023, demikian disampaikan oleh kantor media setempat.

“Jumlah jurnalis yang terbunuh meningkat menjadi 100, pria dan wanita, sejak dimulainya perang brutal di Jalur Gaza, setelah jurnalis Mohammed Abu Hweidy mati syahid dalam serangan udara Israel di lingkungan Shujaiya,” kata kantor media.

Sementara itu, Palestinian Central Bureau of Statistics (PCBS) melaporkan sedikitnya 103 jurnalis telah terbunuh dalam perang Israel-Palestina.

Serangan yang brutal dari Israel juga menyebabkan lebih dari 50 gedung atau kantor media di Gaza hancur. Ratusan jurnalis Palestina dan keluarga mereka terpaksa mengungsi ke bagian selatan sebagai upaya untuk menyelamatkan diri. Untuk menjaga nyawa mereka, para pekerja media terpaksa meninggalkan peralatan kerja di kantor-kantor di wilayah utara yang terkena dampak. Di tengah kondisi lapangan yang sangat sulit, sering kali terjadi putusnya komunikasi.

Para jurnalis yang beroperasi di wilayah konflik bersenjata seharusnya dilindungi berdasarkan hukum kemanusiaan internasional, namun hal ini berkali-kali dilanggar oleh Israel. Jurnalis Palestina mengklaim bahwa Israel dengan sengaja menargetkan mereka sebagai upaya untuk membungkam liputan berita.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Jurnalis Internasional, Tim Dawson, tidak mungkin untuk mengabaikan jumlah korban jiwa jurnalis yang begitu besar.

“Saya kira kita belum pernah melihat adanya korban jiwa dari jurnalis karena konsentrasi mereka dalam konflik apapun yang bisa saya bayangkan. Ada sekitar 1.000 jurnalis di Gaza pada awal konflik ini. Meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam perhitungan jumlah korban meninggal, jika antara tujuh setengah dan 10 persen yang meninggal, maka angka tersebut merupakan angka yang sangat tinggi,” ujarnya.

Dawson menyatakan bahwa para jurnalis di Gaza hanya dilengkapi dengan kamera, mikrofon, dan buku catatan sebagai peralatan kerja mereka. Meskipun jumlah korban jiwa sangat tinggi, mereka tetap melanjutkan pekerjaan mereka.

Selain itu, Dawson juga mencatat bahwa beberapa jurnalis Palestina mengalami pengalaman menerima ancaman melalui telepon, yang diduga berasal dari pihak militer Israel. Ancaman tersebut mencakup risiko menjadi sasaran rudal Israel.